Selasa, 09 November 2010

Far East Movement

Actually, I'm not a huge fan of hip-hop. Saya selalu merasa bahwa beat-beat hip-hop terlalu monoton hingga saya merasa agak terlalu membosankan. Musisi hip-hop / rapper yang paling masuk di telinga saya hanyalah Eminem, Kanye West, Jay-Z, 50 Cent dan yang terakhir masuk adalah B.o.B

Tapi baru-baru ini saya disuguhi hip-hop act yang unik dari USA sana. Far East Movement adalah nama dari grup hip-hop tersebut. Pertama kali melihat mereka adalah saat menonton video clip single baru mereka 'Like A G6 feat The Cataracs and Dev' yang sukses memuncaki Billboard Hot 100.

Far East Movement sendiri adalah grup hip-hop yang anggotanya adalah keturunan Asian-American. Kev-Nish (Chinese/Japanese American), Prohgress (Korean American), J-Splif (Korean American), dan DJ Virman (Filipino American) merefleksikan kehidupan multikultural yang ada di USA.

What makes them so interesting is that they mix together hip-hop with electronic sounds and dance music. Dengan kombinasi seperti itu, musik hip-hop yang mereka bawakan jadi lebih berwarna dan tidak terlalu monoton.

Selain single 'Like A G6' yang disebutkan di atas, mereka baru-baru ini merilis single baru 'Rocketeer feat Ryan Tedder' yang lebih nge-pop (sounds like B.o.B's music). Another nice single though!

Kedua single tersebut ada di album terbaru mereka yaitu 'Free Wired' yang juga menampilkan kolaborasi dengan Snoop Dogg, Keri Hilson, dan masih banyak lagi. Let's see if they can show the Asian pride in the US hip-hop scene

Minggu, 07 November 2010

Hurts

Bosan mendengar musik pop yang itu-itu saja? Seorang tua pernah mengasihani generasi muda sekarang ini yang dijajah budaya pop dari Lady Gaga dan Justin Bieber.

Well, mungkin pendapat orang tua itu bisa berubah setelah mendengarkan Hurts.

Hurts adalah duo dari Manchester yang terdiri atas Theo Hutchcraft (vocals) dan Adam Anderson (synth, guitar). Musik yang mereka buat adalah British-Pop dengan sentuhan synthesizer dan electronic beats. Bisa dibilang Hurts merevolusi Brit-Pop yang pada 90an diisi oleh band-band favorit masa itu seperti Blur, Oasis, dan Suede.

Pada bulan September lalu, Hurts merilis album debut mereka 'Happiness' yang berisi lagu-lagu synthpop yang menyenangkan semacam 'Wonderful Life', 'Stay', dan 'Sunday'.

Dan patut disyukuri karena album 'Happiness' milik mereka juga dirilis di Indonesia. Grab one and listen to a pop music with a better quality than we used to hear.

The Social Network [review]

Pernah membayangkan menjadi billionaire di usia yang sangat muda? Mark Zuckerberg mungkin semasa ia kuliah di Harvard tidak pernah membayangkan bahwa ia akan jadi billionaire termuda saat ini berkat social networking miliknya yaitu Facebook.

Film The Social Network ini sendiri menceritakan bagaimana Facebook ditemukan oleh Mark Zuckerberg. Dan tentu saja seperti tagline di poster film ini, kita juga disuguhi drama perseteruan Zuckerberg dengan beberapa orang yang menuntutnya atas penciptaan Facebook.

Film ini sendiri dibuat berdasarkan buku 'The Accidental Billionaires' karya Ben Meizrich, tidak berdasarkan cerita Mark Zuckerberg sendiri.

Dibuka dengan adegan di sebuah bar dimana Mark Zuckerberg (diperankan Jesse Eisenberg dengan luar biasa) sedang berkencan dengan Erica Albright (Rooney Mara). Mark yang jenius dan secara tidak langsung menyinggung Erica yang 'hanya' belajar di Boston University. Erica yang marah memutuskan hubungan dengan Mark yang membuat hatinya hancur.

Setelah patah hati, Mark berlari kembali ke dorm nya di Harvard dan dengan sengaja ia mencuri foto-foto mahasiswi Harvard dan membandingkannya dengan mahasiswi lainnya dalam sebuah website bernama FaceMash, yang hampir membuatnya dipecat dari Harvard. Walaupun begitu, website inilah yang menjadi cikal bakal Facebook nantinya.

Setelah ini, Mark bersama sahabat baiknya Eduardo Saverin (portrayed by our hot actor Andrew Garfield) membuat rencana untuk mmbuat sebuah website dimana orang-otrang bisa berhubungan satu sama lain dan melihat profil masing-masing. Sementara itu di sisi lain, ide FaceMash dari Mark membuat dua bersaudara Cameron - Tyler Winklevoss (keduanya diperankan Arnie Hammer) dan temannya Divya Narendra (Max Minghella) tertarik untuk merekrut Mark untuk mneciptakan website HarvardConnection.

Di sinilah konflik dimulai. Mark yang awalnya setuju bergabung bersama Winklevoss bersaudara dan Narendra justru meninggalkan mereka dan memulai Facebook bersama Eduardo dan teman-teman lainnya. Kemudian diceritakan juga bagaimana Mark bertemu co-founder Napster, Sean Parker (Justin Timberlake), yang bergabung dengan Facebook walaupun Eduardo tidak setuju karena Sean dianggap membawa pengaruh buruk.

 

Film ini dibuat dengan skenario yang apik dan penyutradaan yang indah. Pertamanya saya dibuat bingung dengan alur cerita yang cepat dan bolak-balik antara penciptaan Facebook di Harvard, sengketa Mark dengan Eduardo, dan sengketa Mark dengan Winklevoss bersaudara dan Narendra. Tapi bila anda adalah tipe penonton yang cermat, maka anda akan cepat terbiasa dengan hal ini.

Tidak ada yang baik atau buruk di film ini. Mark Zuckerberg diceritakan sebagai orang yang tidak punya ambisi besar untuk Facebook, dimana orang-orang lain menganggap website ciptaannya adalah bisnis besar. Mark sendiri lebih dianggap sebagai orang yang menjengkelkan (terlihat dari bagaimana ia bicara), dan menganggap enteng semua masalah yang menimpanya. Pada akhirnya, Mark adalah orang kaya tanpa ambisi, teman, ataupun cinta untuk dirinya sendiri.

Film ini sangat direkomendasikan, terutama bila anda ingin lebih mengetahui sejarah Facebook. Tidak berlebihan bila sejumlah media menyebut film ini film terbaik tahun ini.

Minggu, 31 Oktober 2010

Kings of Leon - Come Around Sundown [review]

Para raja dari keluarga Followill kembali dengan album kelima mereka, sekaligus termasuk salah satu album yang paling ditunggu di tahun 2010 ini.

Tentu masih segar di benak kita saat album keempat mereka 'Only by the Night' mendapat kesuksesan secara komersial. Hits single 'Sex on Fire' mendapat nominasi grammy, serta 'Use Somebody' di-cover oleh bermacam-macam band/penyanyi dan juga berbagai macam versi remix nya (yang tentu saja membuat bosan dan muak)

Bila di album ini anda mengharapkan sound yang sama seperti di album 'Only by the Night', maka bersiaplah untuk kecewa. Di album ini Kings of Leon mencoba melepaskan diri mereka dari bayang-bayang kesuksesan album mereka sebelumnya.

Simak saja single pertama 'Radioactive' dimana Caleb menyanyi 'It's in the water, it's in the story, where you came from'. Rasanya Kings of Leon seperti ingin mengingatkan diri mereka sendiri untuk kembali ke permulaan di mana mereka berasal.

'Mary' lagu dengan lirik yang flirty dan Matthew mencoba riff-riff gitar yang lebih berat dan terasa glam-punk itu. Kemudian 'The Face', sebuah power ballad yang berpotensi menjadi sebuah lagu sing-along.

Sound berbeda yang coba dieksplor adalah sedikit nuansa funk pada lagu 'Pony Up', Jared sendiri rasanya sudah menugasai bass-line funk yang dimainkan dengan sangat baik di lagu ini. Kemudian ada 'Birthday' dimana Caleb mengajak kita untuk bersenang-senang hingga 'falling and laughing at the drinks we spill'.

Walaupun tidak berpotensi untuk melampaui kesuksesan 'Only by the Night' yang terjual 6,5 juta kopi di seluruh dunia, album ini terasa lebih baik dibandingkan 'Only by the Night'. Tidak terlalu banyak lagu ballad cengeng macam 'Revelry' atau 'Manhattan', dan lebih memperkaya isi album ini dengan eksplorasi musik yang mereka lakukan. Paling tidak para raja Followill ini tidak terbuai dengan kesuksesan mereka, dan mencoba membuktikan kepada dunia beginilah Kings of Leon seharusnya.

Kamis, 28 Oktober 2010

Maroon 5 - Hands All Over [review]

Setelah 3 tahun absen, Maroon 5 akhirnya kembali dengan album ketiga mereka yang berjudul 'Hands All Over'. Di album terbaru ini, mereka kembali dengan musik pop-rock dengan balutan nuansa funk dan disco yang melekat sejak album kedua mereka.

Patut dicatat bahwa album ini diproduseri oleh Robert John "Mutt" Lange yang terkenal karena memproduseri band/penyanyi semacam AC/DC, Nickelback, The Corrs, dan Shania Twain.

Di single pertama mereka, 'Misery', Adam Levine menyanyikan lirik tentang penderitaan bersama seorang wanita (walaupun Levine sendiri tidak terdengar menderita saat menyanyikannya).

Dan tentunya kita masih ingat kalau Maroon 5 sangatlah handal dalam membuat lagu pop manis tentang cinta yang menyentuh hati (seperti 'She Will Be Loved' atau 'Nothing Lasts Forever'). Well, di album ini mereka tentu saja memasukkan lagu pop manis seperti itu lagi. Simak saja track 'Just A Feeling' yang liriknya akan mengiris anda yang sedang patah hati.

Salah satu track yang patut disimak lagi adalah 'Out of Goodbyes', sebuah lagu country-pop yang dinyanyikan bersama salah satu rising star of country music yaitu Lady Antebellum.

Walaupun diproduseri oleh produser sekaliber Robert "Mutt" Lange, album ini tetap tidak jauh berbeda dengan kedua album mereka sebelumnya. Paling tidak Maron 5 masih mampu mengeluarkan album pop-rock yang catchy, tidak kacangan, dan ear friendly, dan tentunya album ini pun selamat dari jurang keterpurukan.

Senin, 25 Oktober 2010

Vampire Weekend live in Concert @ Bengkel Night Park, 24th October 2010

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Pada minggu malam tanggal 24 Oktober 2010, sejumlah anak muda terlihat memadati area Bengkel Night Park, SCBD, Jakarta Selatan. Mereka datang khusus untuk menonton band indie rock asal New York, Vampire Weekend, yang akan bermain malam  itu. Di depan area Bengkel Night Park pun para penonton terlihat masih sibuk menukarkan tiket dan beberapa masih terlihat membeli tiket di ticket booth yang disediakan.

Demi mendukung suasana konser, promoter Trilogy Live pun menyediakan minuman Horchata yang khusus disediakan untuk para penonton. Dan kelihatannya para penonton cukup tertarik untuk mencoba minuman asal Meksiko yang juga menjadi judul salah satu lagu hit milik Vampire Weekend tersebut. Bahkan sebelum konser dimulai, minuman seharga 15 ribu yang disediakan promoter tersebut pun habis terjual.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Pada malam itu, konser yang diselenggarakan oleh Trilogy Live dan Spiritground tersebut dibuka dengan penampilan Monkey to Millionaire pada pukul 20.00. Trio yang digawangi Wisnu (vocal, gitar), Agan (bass) dan Emir (drum) membawakan beberapa lagu  dari album pertama mereka seperti “Fakta dan Citra”, “30 Nanti”, “Merah”, “Strange is the Song in Our Conversation” yang dinyanyikan bersama Marsha dan tentu saja hit single mereka “Replika”. Penampilan Monkey to Millionaire cukup memanaskan suasana di Bengkel Night Park sebelum penampilan Vampire Weekend.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Setelah Monkey to Millionaire selesai tampil, penonton semakin tak sabar menunggu penampilan Vampire Weekend. Setelah menunggu sekitar 45 menit, akhirnya yang  ditunggu-tunggu pun muncul. Dan tanpa basa-basi, Ezra Koenig, Rostam Batmanglij, Chris Baio, dan Chris Thomson langsung memulai aksi mereka dengan “Holiday” yang dilanjutkan dengan “White Sky”, “Cape Cod Kwassa Kwassa”, dan “I Stand Corrected”.

Kemudian Ezra Koenig pun mulai menyapa penonton. Ezra Koenig sendiri cukup ramah dalam berinteraksi dengan penonton. Dan kemudian mereka pun memulai lagi aksinya dengan “M79”, “Byrn”, “California English”, dan “Cousins” yang membuat penonton semakin marak berdansa. Penonton pun  dibuat terus bedansa saat Vampire Weekend membawakan “A-Punk”. Mereka juga mengajak penonton menyanyi bersama saat menyanyikan “One (Blake’s Got A New Face)”.

Setelah lagu “Giving Up the Gun” dan “Oxford Comma” dibawakan, Vampire Weekend pun pamit sebentar ke belakang panggung. Penonton yang masih belum puas pun terus berteriak ‘We Want More’. Akhirnya Vampire Weekend pun kembali ke atas panggung dan Rostam Batmanglij pun menyapa penonton dengan ucapan ‘Selamat Malam’. Kemudian mereka melanjutkan aksi mereka dengan membawakan encore “Horchata”, “Mansard Roof”, dan “Walcott”. Setelah ketiga lagu tersebut selesai dibawakan, Vampire Weekend pun akhirnya benar-benar pamit dari panggung.

Hampir seluruh lagu hit dari kedua album Vampire Weekend dibawakan malam itu. Vampire Weekend pun tampil sangat energik dan cukup irit dalam berbicara, tapi saat berbicara mereka terdengar cukup ramah. Tampil dengan dandanan cukup santai, mereka mampu tampil all-out dan atraktif. Benar-benar sebuah konser penutup akhir pekan yang indah sebelum kembali ke kesibukan masing-masing keesokan harinya. Dan setelah konser usai, nyanyian ‘In December drinking Horchaaata…’ pun masih terdengar di antara kerumunan penonton yang tersenyum puas.

Jumat, 22 Oktober 2010

MUCC - Karma [review]

MUCC, salah satu band rock Jepang favorit saya kembali mengeluarkan album terbaru di tahun 2010 ini. Bisa dibilang MUCC adalah band yang paling rajin merilis album karena sejak mereka memulai karir mereka, mereka selalu mengeluarkan album setiap tahun.

MUCC juga adalah band yang paling rajin mengeksplorasi genre musik lainnya. Pada album 'Karma' ini, mereka mengeksplorasi musik electronic yang tentu saja di-blend dengan musik khas MUCC itu sendiri.

Dimulai dengan intro 'Chemical Parade' yang benar-benar full electronic, bisa dilihat akan kemana arah musik dari album ini. Kemudian dilanjutkan dengan 'Falling Down', single yang sebelumnya dirilis tapi dalam album ini kemudian ditambah dengan nuansa electronic agar lebih ngeblend dengan album ini. Selanjutnya sampai setengah album ini, seluruh lagunya bernuansa electronica rock.

Salah satu track yang berbeda adalah track nomor 8 yaitu 'Daraku', sebuah track dengan lirik full berbahasa inggris dengan nuansa jazzy yang kental. Walaupun berbeda, bisa dibilang ini adalah salah satu track terbaik di album ini.

Setelah itu track-trak lain yang nuansanya berbeda, setelah track ke7 nuansa albumnya sudah keluar dari electronica-rock tersebut. Walaupun begitu, MUCC tetap mampu menyuguhkan musik yang menarik. Seperti 'Polaris' yang diisi dengan orchestra, string, dan biola. Dan ada juga 'Feather' sebuah lagu ballad yang indah dan menyenangkan untuk didengarkan

Overall, ini adalah sebuah album yang sangat menarik dari MUCC. Di usia band yang mencapai ke-13 tahun, MUCC sepertinya tidak akan pernah berhenti berkreasi dan bereksplorasi sampai di sini saja. Semoga di masa depan, MUCC mampu bereksplorasi dan berkreasi lebih banyak lagi.