Tampilkan postingan dengan label concert. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label concert. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

L'Arc~en~Ciel live in Jakarta; Sebuah momen surealis nan nyata

B4fdc32e942511e19dc71231380fe523_7
Ada masanya di mana menonton sebuah konser bukan hanya demi kesenangan semata, tapi demi kebutuhan spiritual; memuaskan jiwa-jiwa yang ingin menonton band pujaan setelah menunggu dalam waktu cukup lama.

Momen konser demi kebutuhan spiritual adalah momen yang langka. Tapi bagi saya dan ribuan orang lainnya, momen ini akhirnya terealisasikan di hari Rabu, tanggal 2 Mei 2012, malam kemarin. Ya, L’Arc~en~Ciel akhirnya, untuk pertama kalinya, menghentak Jakarta setelah sekian tahun melewatkan Jakarta dari agenda tur dunia mereka.

Saya pribadi sudah menggemari band ini sejak tahun 2004. Kalau tidak ada band ini, entah bagaimana jadinya hidup saya sekarang ini (terkesan berlebihan namun serius). Dibandingkan saya, yang lain jelas sudah menunggu lebih lama, ada yang sudah menanti 10-12 tahun lamamnya. Tapi entah itu fans baru atau fans lama, semua Cielers (sebutan fans L’Arc) adalah sama. Tidak peduli ngefans berapa lama atau perbedaan kelas menontonnya, perasaan kami semua ke band ini adalah sama.

Dalam sejarah pengalaman saya pergi ke berbagai konser, bisa dibilang ini adalah konser paling ‘gila’. Karena saya bela-belain terbang selama 6 jam dari Melbourne ke Jakarta demi konser ini, bahkan saya sempat menyambangi hotel di mana mereka menginap dan mengadakan konferensi pers sehari sebelum konser. Sebuah momen surealis pertama adalah ketika melihat mereka dalam jarak sekitar 2 meter di hotel setelah mereka mengadakan konferensi pers. Saya dan Atri (@chroniclea3) yang memang sudah menunggu mereka benar-benar speechless ketika mereka lewat di depan mata.

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-5

Di saat hari H konser, semua euphoria menumpuk jadi satu. Saya bahkan sudah berangkat dari sebelum jam 12 siang, walaupun tidak langsung menuju venue. Ketika sampai di venue di sekitar jam 3 sore, lautan manusia sudah memenuhi area depan gerbang padahal gerbang pertama baru dibuka jam 4 sore. Setelah melewati gerbang pertama, masih ada antrian lagi untuk menembus gerbang kedua yang dibuka jam 6.30 malam. Memasuki area konser, saya bagaikan anak kecil yang baru pertama kali masuk taman bermain, senangnya bukan main, apalagi karena posisi saya termasuk pas di depan panggung. Masuk area bukan berarti konser langsung mulai. Setelah masuk, kami masih harus menunggu selama satu setengah jam lagi sebelum konser benar-benar dimulai.

Tapi apalah arti semua mengantri berjam-jam itu ketika hyde, tetsuya, ken, dan yukihiro memasuki panggung. Ketika mereka muncul di panggung rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, bahkan Ines (@inestjokro) katanya sudah mengeluarkan air mata di lagu pertama, ‘Ibara no Namida.’

Total ada 19 lagu yang mereka bawakan (full setlist di sini: http://www.setlist.fm/setlist/larcenciel/2012/lapangan-d-senayan-jakarta-indonesia-4bde4312.html )

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-1

Saya sendiri mengalami guncangan emosi yang parah di lagu ‘Hitomi no Jyuunin’ dan pastinya ‘Anata’ di mana momennya sangat pas, ditemani rintikan hujan. Teman yang lain, Aris (@arisrmd) , menangis di lagu ‘Driver’s High’, sedangkan @inestjokro dan Helda (@frauassenava) sudah menangis lebih banyak.

Terlepas dari sisi emosionalnya, konser ini adalah konser terbaik yang pernah saya datangi. Lighting dan visualnya benar-benar kelas dunia. Untuk sound, walaupun agak tidak memuaskan di lagu-lagu awal, tapi setelah memasuki pertengahan set sound sangatlah menyenangkan dan tidak terlalu menyakiti telinga. Katanya soundman yang bertugas memang sengaja tidak memaksakan sound sehingga tidak menyiksa telinga dan membuat sound yang senyaman mungkin. Dari segi performance sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sungguh sangat terhibur terutama ketika hyde, ken, dan tetsuya berbicara dengan bahasa Indonesia. Benar-benar momen yang surealis.

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-3

Secara keseluruhan, konser ini adalah konser terbaik yang pernah saya datangi. Dari segi tata panggung, visual, dan sound sangatlah memuaskan.

Performance? Jangan ditana. Baru kali ini ada band yang tidak jaga image dengan sok kalem, justru kebalikannya. Sangat terlihat kalau L'Arc~en~Ciel berusaha sebaik mungkin untuk 'melayani' fansnya yang sudah menunggu cukup lama, penggunaan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi adalah salah satu contoh di mana mereka benar-benar berusaha untuk menjadi bagian dari euphoria konser ini.

Laruku_mantap

Terima kasih untuk L'Arc~en~Ciel, atas malam yang tak terlupakan. Kalimat "Mencintai L'Arc~en~Ciel adalah pilihan yang nggak akan pernah gue sesali seumur hidup" dari nona Helda mungkin sangat pas untuk menggambarkan perasaan semua yang hadir setelah konser itu. Sekali lagi terima kasih Hyde, Tetsuya, Ken, dan Yukihiro. Sampai jumpa lagi di Jakarta.

Sabtu, 04 Februari 2012

A Trip to Laneway 2012

[[posterous-content:pid___0]]Dalam dunia festival musik, St. Jerome's Laneway Festival (or simply called Laneway Festival) termasuk salah satu festival musik yang underrated. Selain karena tergolong baru (festival ini pertama kali dicetuskan tahun 2004, dan baru mulai menjadi festival tur mengelilingi Australia tahun 2008), lineup yang tergolong 'biasa saja' di mata orang-orang awam membuat festival ini dianggap sebelah mata oleh sebagian besar penikmat musik, terutama di Australia.

Walaupun masih muda dan underrated, Laneway Festival secara perlahan mulai membuktikan diri sebagai salah satu festival yang patut diperhitungkan. Terbukti dari lineup tahun ini yang berisi M83, Feist, Toro Y Moi, The Pains of Being Pure at Heart, The Drums, dan banyak lagi. Lineup Laneway memang bukanlah mereka yang selalu mencatatkan namanya dalam Top 200 Billboard Albums Charts, tapi paling tidak mereka diakui oleh berbagai media musik ternama dari Pitchfork, NME, hingga Rolling Stone.

Jujur saja, saya pribadi baru mengenal festival ini tahun 2011 lalu ketika festival ini menambahkan SIngapore dalam jadwal tur mereka. Ketika akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menonton festival ini di kota tempat di mana festival ini bermula, saya tidak menyia-nyiakannya.

[[posterous-content:pid___1]]

Laneway Festival di kota Melbourne ini diadakan di venue Footscray Community Arts Centre. Venue ini sendiri sejujurnya bukanlah venue yang cukup layak untuk sebuah festival, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Di Laneway Festival untuk Australia dan New Zealand, ada tiga buah stage plus satu stage khusus DJ Set. Khusus Singapore, stage hanya akan ada dua buah.

Ada beberapa act yang sudah menjadi incaran saya dan wajib hukumnya bagi saya untuk menonton mereka, yaitu The Pains of Being Pure at Heart, Girls, Cults, Feist, Yuck, The Horrors, The Drums, dan M83. Sayang karena jadwal yang bertabrakan saya tidak sempat menonton Cults, Yuck, The Horrors, dan M83 hingga selesai. Selain semua act yang disebutkan di atas, saya sempat menonton band-band lokal semacam Husky dan DZ Deathrays dan band internasional lain seperti Portugal. The Man dan Austra.

Secara penampilan dan kualitas sound, saya harus memuji para performers yang mendapat jatah tampil di Dean Turner stage. The Pains of Being Pure at Heart, Feist, The Horrors, dan M83 masuk ke dalam kategori ini. Sound yang dihasilkan mereka di stage utama ini sangatlah menyenangkan untuk didengarkan dan tidak mengganggu dan penampilan mereka juga sangat tidak mengecewakan.

Berbeda nasibnya dengan performers yang tampil di dua stage lainnya, The Windish Agency Stage dan Young Turks & EYOE Stage, karena sound yang dihasilkan dua panggung ini sangat mengurangi kenyamanan menonton band-band yang beraksi di dua stage tersebut. Sebut saja Cults, Girls, dan The Drums di mana sound terdengar kasar dan sangat tidka nyaman didengarkan. Walaupun The Drums dan Girls tampil sangat atraktif, kesenangan itu berkurang ketika harus mendengarkan sound kasar yang dihasilkan sound system panggung mereka.

Terlepas dari beberapa antiklimaks yang terjadi karena perbedaan kualitas sound di panggung yang berbeda, Laneway Festival adalah festival yang menyenangkan. Kelanjutan festival ini tahun depan akan sangat dinanti, tentu saja dengan harapan festival ini berkembang lebih baik lagi dibandingkan tahun ini.

Jumat, 09 Desember 2011

Explosions in the Sky at Forum Theatre, Melbourne

Img-20111208-00240
Just watched Explosions in the Sky for the first time, here in Melbourne on the 8th

Listening to their albums andd watching them live is a completely different experience.

In the album they can sound very calm, while on stage they can go wild and play very loud.

The venue also supports their loudness, giving me one of the best concert experiences ever

This concert was just perfect

Kamis, 26 Mei 2011

Ben Folds Live & Up-Close at Nusa Indah Theatre, Balai Kartini; Konser intim nan sederhana penuh tawa

20110408-044845-663373

prmotional poster cortesy of Ismaya Live

306960155

Sehari setelah konser live & up-close bersama The Drums, pada hari Kamis tanggal 26 Mei giliran Ben Folds yang menggelar konser intim dan sederhana di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini. Sama seperti The Drums sehari sebelumnya, konser Ben Folds ini juga diadakan oleh Ismaya Live sebagai promotornya.

Ben Folds naik ke atas panggung tepat pukul jam 9 malam. Ben yang tampil santai dengan kemeja pun langsung menghampiri grand piano yang ada di atas panggung. Grand piano itulah satu-satunya teman Ben di atas panggung, untuk show di Jakarta ini Ben tampil sendirian tanpa band pengiringnya. Set panggung yang sederhana, tanpa barikade pun membuat suasana semakin intim.

Tanpa basa-basi, Ben langsung memainkan 'Effington' yang disusul dengan 'Annie Waits' dan 'Sentimental Guy'. Setelah memainkan lagu ketiga, Ben langsung menyapa penonton sambil mengeluarkan candaan yang mengundang tawa penonton. Setelah memuji asap yang keluar dari panggung, Ben memainkan 'Smoke' karena diingatkan oleh penonton.

Tepuk tangan meriah selalu hadir setiap Ben selesai memainkan satu lagu. Tak lupa Ben membalasnya dengan joke-joke khas miliknya, sambil bercerita inspirasi dari beberapa lagu yang dia mainkan malam itu seperti 'All U Can Eat'. Ben pun tidak lupa memainkan lagu-lagu yang direquest oleh para penonton hingga Ben kebingungan untuk memilih lagu apa yang akan dimainkan.

Walaupun Ben tampil sebagai one-man band dengan piano nya, konser tidak terasa sepi malah semakin ramai karena Ben dengan piawai memainkan piano nya bahkan melakukan atraksi memainkan mic seolah-olah mic tersebut adalah instrumen musik. Ben pun sempat pamer kebolehannya memainkan drum setelah memainkan lagu 'Steven's Last Night In Town' saat seorang kru tiba-tiba membawa masuk floor drum hingga satu demi satu set drum mulai dari snare, hi-hat, bass drum, dan cymbals keluar ke atas panggung.

Penonton pun dijadikan sebagai pengiring oleh Ben, terutama saat lagu 'You Don't Know Me' di mana penonton mengisi bagian-bagian yang di lagu aslinya dinyanyikan oleh Regina Spektor. Ben juga membuat koor massal dari penonton dengan nada berbeda dengan Ben sebagai komandonya. Koor pun terus mengiringi sambil Ben memainkan piano nya.

Selama 2 jam penuh, Ben Folds menyuguhkan atraksi panggung yang menyenangkan walaupun hanya ditemani grand piano. Dan penonton pun tak lupa memberi standing ovation kepada Ben setelah ia menyelesaikan semua set plus encore nya.

Beberapa orang menyayangkan bahwa Ben tidak memainkan lagu favorit mereka yaitu 'Brick' (yang sebenarnya ada di dalam setlist Ben). Tapi dengan pertunjukan yang menyenangkan seperti ini, mungkin tidaklah begitu masalah. Dan di twitter nya, Ben Folds tak lupa untuk mengucapkan 'terima kasih' dan berkata bahwa suatu hari ia ingin kembali lagi dan memainkan lagu yang ia lewatkan. See you again someday, Ben!

The Drums - Live & Up-Close at Blowfish; Benar-benar Up-close!

The_drums_eventposter_02

Promotional poster courtesy of: Ismaya Live

Akhirnya band indie-pop/post-punk asal Brooklyn, New York, ini datang ke ibukota tercinta untuk melakukan konser di sini setelah sebelumnya mereka sempat mampir di Australia, Singapura, dan Jepang.

Promotor konser ini tak lain dan tak bukan adalah Ismaya Live, yang sudah terkenal di kalangan cutting-edge ibukota karena selalu mendatangkan band-band indie berkualitas ke Jakarta ini.

Untuk konser The Drums ini, Ismaya Live membuat konsep yang berbeda. Konsep yang diusung adalah Live and Up-close. Di benak saya, walaupun judulnya up-close, tetap akan ada jarak antara panggung dan penonton. Tapi, Ismaya Live sukses meruntuhkan ekspektasi saya. Set panggung benar-benar up-clos, tanpa ada barikade (hanya ada beberapa security di depan panggung) dan panggung yang tidak terlalu tinggi benar-benar membuat konser The Drums ini sangat up-close!

Dan sesuai janji Ismaya Live juga, The Drums langsung muncul dan menggebrak Blowfish tepat pukul 9 malam.The Drums muncul dengan live line-up terbaru mereka: Connor Hanwick sang drummer beralih menjadi gitaris, Jacob Graham sang gitaris memainkan keyboard dan synthesizer, ditambah dua personel tambahan yaitu Chris Stein pada drum dan Myles Matheny (anggota Violens) pada bass, dan tentu saja Jonny Pierce tetap pada vokal.

The Drums langsung menggebrak dengan lagu 'What You Were', yang kemudian dilanjutkan 'Me and the Moon' dan 'Best Friend' yang langsung mengundang koor massal dari penonton. Setelah itu Jonny Pierce menyempatkan diri untuk berbicara dan berterimakasih atas kedatangan para penonton.

Performance The Drums malam itu benar-benar di luar ekspektasi saya. Jonny Pierce tetap liar dan berdansa kesana kemari seperti yang ia lakukan di video klip mereka. Connor Hanwick mampu mengambil alih tugas Jacob Graham sebagai gitaris dengan baik sedangkan Jacob memberi komando dengan keyboard dan synthesizer nya. Sedangkan kedua personel additional, Chris Stein dan Myles Matheny, performance mereka sangat memuaskan. Pukulan drum Chris sangat tegas sedangkan permainan bass Myles sangat groovy dan menyenangkan.

Sebuah konser yang menyenangkan dan memuaskan, baik secara konsep dan performance The Drums itu sendiri. Kapan lagi anda bisa menyaksikan band favorit dengan jarak hanay satu meter dan para fangirls bisa menarik baju sang vokalis? Semoga saja Ismaya Live, sebagai promotor, mau membuat konser dengan konsep serba intim seperti ini lagi.

Rabu, 27 April 2011

Maroon 5 Live in Jakarta at Istora Senayan; Pertunjukan penuh energi, cinta, dan wanita

Setelah menunggu sejak akhir 2010 lalu, konser Maroon 5 yang sold-out dalam waktu 10 jam ini akhirnya tiba juga.

Sekitar 8 ribuan penonton yang sudah menanti kedatangan Maroon 5 sukses memadati area Istora Senayan pada malam 27 April 2011.

Saat cahaya panggung dimatikan, penonton yang mayoritas adalah wanita langsung berteriak histeris. Terutama ketika para personil Maroon 5: James Valentine, Jesse Carmichael, Mickey Madden, Matt Flynn, dan tentu saja Adam Levine yang membuat para wanita makin histeris. Penampilan Maroon 5 ditemani seorang additional keyboardist bernama PJ Morton yang sudah menemani mereka tur sejak tahun lalu.

Tanpa basa-basi Maroon 5 langsung memainkan 'Misery', 'If I Never See Your Face Again', dan 'Harder To Breathe'. Adam Levine pun tak lupa mengucapkan 'Terima Kasih' yang langsung disambut histeria para penonton.

Setelah lagu ke-4 'Give A Little More', Adam pun mulai menyapa penonton. Kalimat maut yang meluncur dari mulutnya adalah 'Aku Cinta Kamu' yang semakin membuat penonton wanita dimabuk kepayang oleh kharismanya.

Tak dapat dipungkiri bahwa Adam Levine menjadi magnet tersendiri pada pertunjukan malam itu. Kemanapun ia berlari di atas panggung, selalu diikuti teriakan para wanita. Adam pun tak henti-hentinya memuji penonton Indonesia yang dia anggap sebagai salah satu penonton terbaik yang pernah ada. Para wanita pun semakin histeris ketika Adam mempersembahkan lagu 'She Will Be Loved' untuk mereka.

Secara keseluruhan konser Maroon 5 di Jakarta ini cukup memuaskan, terutama untuk para penggemar yang sudah menunggu mereka sejak lama. Maroon 5 juga cukup pandai meramu setlist yang sukses membuat para penonton ber-sing alaong sepanjang pertunjukan selama 90 menit tersebut.

Maroon 5 pun berjanji suatu hari akan kembali ke bumi Indonesia suatu hari nanti. Kapanpun itu, para penggemar, terutama para wanita, siap menerima kembali Adam Levine dan kawan-kawan,

Minggu, 10 April 2011

It Won't Hurt to See HURTS in Jakarta

Hurtsalbumartwork
The synthpop duo from Manchester is coming to Jakarta!

Yes, Hurts akan meramaikan daftar panjang musisi luar negeri yang melakukan konsernya di Indonesia.

Hurts kali ini ditunjuk sebagai headliner dari sebuah music festival yang diadakan oleh majalah Nylon Indonesia. Selain Hurts, akan ada 10 performers lainnya yang berasal dari scene musik lokal. Entah akan seperti apa nantinya event ini, tapi dengan adanya Hurts sebagai headliner maka dapat dipastikan event ini akan membuat Jakarta terkena sindrom disko galau.

Saat ini tiket presale untuk acara ini sudah tersedia dengan harga yang cukup bersahabat yaitu Rp 230.000 (termasuk pajak). Tiket sudah dapat dipesan melalui http://urbanite.asia/tickets

For more details, silakan klik http://urbanite.asia

Mari kita berdisko galau bersama Hurts di malam minggu!

Minggu, 03 April 2011

Jimmy Eat World live in Jakarta at Nusa Indah Theatre, Balai Kartini; Konser intim nan apik

Saya masih ingat persis, saat itu di siang hari di awal-awal bulan Maret saya mendadak menerima telpon dari orang yang mengenalkan diri sebagai kru JAVA Musikindo. Orang itu menginformasikan bahwa konser Jimmy Eat World yang awalnya hendak diadakan di Tennis Indoor Senayan ternyata dipindahkan ke Nusa Indah Theatre, Balai Kartini. Dengan venue dipindah ke Balai Kartini, otomatis ada seat untuk duduk sambil menonton walaupun tiket yang saya beli adalah tiket festival. Pertamanya agak skeptis tentang perubahan venue ini, apalagi menonton band seperti Jimmy Eat World tentu tidak akan puas secara maksimal kalau duduk. Tapi saya pikir tak apalah, toh saya memang sudah niat untuk menonton.

Well, segala skeptisme tentang perpindahan venue akhirnya sirna setelah saya menonton secara langsung. Venue yang cukup luas (walaupun tidak sebesar Tennis Indoor Senayan) dan panggung yang dekat membuat konser ini menjadi sebuah konser intim, up-close and personal bersama Jimmy Eat World

Pada awalnya memang semua penonton duduk saat menunggu Jimmy Eat World keluar ke atas panggung. Tapi saat lampu mulai dimatikan pertanda mereka akan naik panggung, semua penonton langsung berpikiran sama: "Persetan dengan tempat duduk". Pada akhirnya memang menonton Jimmy Eat World harus berdiri juga. Saya sendiri setelah berdiri dari tempat duduk langsung menuju depan panggung persis bersama barisan groupies. Penonton yang lain, dari tribun bawah hingga atas semua berdiri dan menikmati konser secara maksimal.

Jimmy Eat World pun tanpa basa-basi langsung menghajar dengan lagu 'Bleed American' dan 'A Praise Chorus' dari album self-titled mereka yang rilis tahun 2001. Koor penonton juga mulai makin kencang saat lagu 'My Best Theory' dari album baru mereka, 'Invented', dimainkan.

Jim Adkins, Tom Linton, Rick Burch, dan Zach Lind bermain dengan energi maksimal. Mereka juga ditemani oleh gadis manis bernama Courtney Andrews yang bertugas menjadi additional player keyboard dan backing vocal.

Jimmy Eat World memainkan lagu-lagu baru dan lama di setlist mereka, dari album Clarity (1999), Jimmy Eat World (2001 - yang aslinya berjudul Bleed American), Futures (2004), Chase This Light (2007), dan Invented (2010). Kombinasi ini terbukti ampuh, membuat fans lama dan baru sing along bersama-sama selama pertunjukkan.

Benar-benar sebuah konser yang bisa dibilang sempurna dari segi lighting, sound, performance, hingga setlist. Lighting cukup sederhana tanpa menguragi kesan megah, sound yang dihasilkan di Balai Kartini sempurna, performance total dan memuaskan dari Jimmy Eat World, dan setlist yang mampu dinikmati semua penggemarnya. Perfect. Salut kepada Jimmy Eat World dan tim JAVA Musikindo.

Para penonton pun keluar dengan wajah sumringah dan ceria, dan mungkin juga sambil menertawakan keputusan orang-orang yang me-refund tiketnya karena kepindahan venue konser ini.

Minggu, 27 Maret 2011

Beatfest 2011 at Bengkel Night Park featuring MGMT and The Whitest Boy Alive

Event tahunan Beatfest kembali digelar tahun 2011 ini. Dan tidak main-main, Beatfest tahun ini menampilkan MGMT dan The Whitest Boy Alive (yang sebelumnya juga tampil di Beatfest 2008).

Acara yang seharusnya dimulai jam 19.30, jadi agak molor sementara antrian di luar venue masih panjang. Dampaknya ketika Sajama Cut yang menjadi opening mulai perform, sebagian penonton masih ada yang di luar venue.

Sajama Cut memang pas jadi opening untuk event ini. Permainan yang apik cukup memanaskan suasana Beatfest yang kelihatan masih kalem.

Setelah Sajama Cut selesai perform, giliran The Whitest Boy Alive naik ke atas panggung. Erlend, Marcin, Sebastian, dan Daniel cukup santai dan berpakain casual saat tampil. Erlend yang sudah empat kali ke Jakarta (dua kali bersama Kings of Convenience, dua kali bersama The Whitest Boy Alive) kelihatan sudah akrab dengan crowd Indonesia dan rajin berinteraksi dengan penonton. Erlend yang terlihat sangat nerdy dengan kacamata besar dan badan skinny itu terbukti bahwa menjadi chick magnet tidak perlu badan kekar dan tampil keren, cukup dengan permainan gitar yang menyenangkan plus gerakan dansa yang unik maka Erlend sukses membuat para penggemarnya berteriak girang.

The Whitest Boy Alive memuaskan penonton dengan membawakan 10 lagu termasuk 2 lagu baru mereka. Bila tidak ada MGMT mereka bisa membawakan setlist lebih panjang lagi karena jujur saja penampilan mereka sangat menyenangkan.

Dan yang ditunggu-tunggu yaitu MGMT akhirnya mulai muncul pada pukul 22.00. Dan tanpa basa-basi mereka langsung menggeber dengan lagu 'It's Working' dan 'Weekend Wars'. Penonton mulai asik berdansa saat lagu keempat, 'Electric Feel', dimainkan.

Walaupun di atas kertas MGMT adalah Andrew VanWyngarden dan Ben Goldwasser, tapi tanpa tiga orang musisi lainnya penampilan mereka akan sangat hampa.

MGMT total membawakan 17 lagu termasuk 3 lagu di encore. MGMT tampil cukup kalem malam itu, hanya sekali-kali Andrew menyapa penonton. Saya sendiri walaupun bernyanyi sepanjang performance MGMT, tapi agak kurang menikmati juga. Selain karena faktor panasnya udara, juga karena mata perih terkena asap rokok dan lighting plus visual effect menyilaukan MGMT. Penonton juga cenderung kurang histeris, kecuali saat lagu 'Kids' dimainkan yang menyebabkan gempa bumi lokal.

Menyenangkan memang bisa melihat MGMT secara live walaupun saya dan teman-teman kurang menikmati performancenya.

Semoga saat mereka datang lagi ke Jakarta mereka bisa memanaskan Jakarta lagi dengan performance yang lebih mampu dinikmati.

Kamis, 17 Maret 2011

Let's Go Surfing with The Drums in Jakarta

The_drums_eventposter
image courtesy of IsmayaLive (www.ismayalive.com)

 

The wait is over! Our favorite indie-pop/post-punk surfers from New York is coming to Jakarta on 25th May 2011!

Kedatangan The Drums menambah lagi daftar panjang konser artis/band di Indonesia tahun 2011 ini. The Drums dengan sukses didatangkan promotor IsmayaLive, yang terkenal sukses mendatangkan musisi/artis indie nan edgy ke ibukota, menanggapi animo para fans The Drums yang sudah tak sabar menonton band idola secara langsung.

The Drums mulai dikenal sejak mereka merilis album debut self-titled mereka pada tahun 2010 lalu. The Drums, yang sebelumnya beranggotakan 4 orang, kini beranggotakan 3 orang yaitu Jonathan Pierce (vocals), Jacob Graham (guitars), dan Connor Hanwick (drums) karena Adam Kessler mengundurkan diri sebagai anggota band pada 2010 lalu. Album debut mereka termasuk sukses di UK (meraih sertifikat Silver), walaupun tidak begitu sukses di kampung halaman mereka yaitu di USA.

Tiket presale untuk konser The Drums di Jakarta sudah mulai dijual tanggal 18 Maret.

Untuk info lebih lengkap tentang konser The Drums, silakan klik www.ismayalive.com

Yuk kita Let's Go Surfing bersama The Drums, Forever and Ever Amen!

Kamis, 17 Februari 2011

Revie Iron Maiden live in Jakarta; Ibadah Haji Metal yang Sukses

Tanggal 17 Februari 2011, tanggal pertunjukan Iron Maiden yang dinantikan kaum metalheads se-Indonesia pun akhirnya tiba. Iron Maiden berkunjung ke Indonesia dalam rangka 'The Final Frontier World Tour', selain di Jakarta mereka juga akan melakukan konser di Bali pada tanggal 20 Februari. Saya sebagai salah satu anggota metalheads pun merasa berkewajiban untuk menonton konser Iron Maiden ini. Saya sendiri baru menggemari Iron Maiden sejak SMA, kontras dengan penggemar lainnya yang rata-rata sudah mendengarkan mereka bahkan sejak saya belum lahir. Walaupun sempat ragu untuk menonton Iron Maiden, akhirnya sebulan lalu saya memantapkan diri untuk nonton, sekali seumur hidup gitu looo...

Konser Iron Maiden ini pada awalnya hendak diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, stadion kebanggaan Indonesia yang dulu sempat digunakan untuk konser Deep Purple dan Mick Jagger. Tapi entah oleh alasan apa, mendadak venue dipindahkan ke Carnaval Beach Ancol. Menurut pihak promotor, PSSI sendiri yang membatalkan GBK sebagai venue konser. Entah alasan yang digunakan PSSI itu benar atau tidak. Paling tidak bagi kaum metalheads, selama konser Iron Maiden tetap diadakan rasanya tidak begitu masalah.

Saya sendiri tiba di Carnaval Beach Ancol pukul 19.00, dalam keadaan cukup terburu-buru karena menurut promotor band opening akan main mulai pukul 19.30. Tetapi pada kenyataannya band opening yaitu Rise To Remain baru naik ke atas panggung pukul 20.00. Saya sendiri tidak begitu mempermasalahkan sih, selama bisa tetap melihat Iron Maiden secara langsung.

Awalnya saya mengira saya penonton paling muda di konser ini, tapi ternyata ada beberapa anak umur 10-13 tahun yang juga ikut menonton Iron Maiden. Cukup salut sama orangtua anak-anak itu, mengenalkan musik metal sejak dini. Dan ternyata penonton yang perempuan pun cukup banyak, dari kakak-kakak unyuu sampai tante-tante, yang berjilbab pun ada. Iron Maiden pun sukses menyatukan bermacam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda pada malam itu.

Konser dibuka dengan penampilan Rise to Remain, band metalcore asal Inggris yang dimotori oleh Austin Dickinson, anak dari Bruce Dickinson. Saya sudah cukup sering mendengarkan band-band beraliran metalcore, dan menurut saya penampilan mereka tidaklah begitu buruk walaupun musiknya standar saja khas band metalcore lainnya. Austin Dickinson sendiri sepertinya mewarisi karisma dan kekuatan vokal dari sang ayah.

Rise to Remain hanya membawakan 5-6 lagu. Penonton sendiri masih terlihat kalem saja selama Rise to Remain di atas panggung.

Setelah Rise To Remain, giliran bintang utama muncul yaitu Iron Maiden. Jarak antara penonton yang tadinya renggang menjadi sangat rapat. Saya sendiri sampai kesulitan untuk bergerak.

Sewaktu opening lagu 'Satellite 15... The Final Frontier' dimulai, gelombang manusia pun terjadi. Gempa bumi lokal baru dimulai ketika Iron Maiden muncul di atas panggung menyanyikan lagu opening tersebut dan disambung dengan 'El Dorado' dan '2 Minutes to Midnight'.

Penampilan Bruce Dickinson, Steve Harris, Janick Gers, Dave Murray, Adrian Smith, dan Nicko McBrain malam itu benar-benar total. Penampilan mereka tidak terlihat seperti orang-orang yang sudah berusia kepala 5. Bruce Dickinson masih sanggup melengking dan berlompatan di panggung, seakan-akan staminanya tidak pernah habis. Steve Harris juga berkeliaran di panggung dengan bass nya. Janick Gers, Adrian Smith, dan Dave Murray bergantian menyiksa gitar dengan solo gitar yang menakjubkan. Nicko McBrain pun masih sanggup menggebuk drum dengan penuh tenaga. Mereka tampil all-out membawakan 13 lagu plus 3 lagu di saat encore.

Penonton sepertinya terlihat kurang antusias saat Iron Maiden membawakan lagu-lagu dari album terbaru 'The Final Frontier' seperti 'The Talisman', 'Coming Home', dan 'When The Wild Wind Blows'. Penonton baru menggila dan menyebabkan gempa bumi lokal saat lagu-lagu klasik semacam 'The Evil That Men Do', 'The Wicker Man', 'The Trooper', 'Fear of the Dark', dan 'Iron Maiden'.

Maskot dari Iron Maiden, Eddie (format The Final Frontier), yang kira-kira setinggi 3 meter sempat muncul di atas panggung dan ikut memainkan gitar.

Perunjukan Iron Maiden berlangsung selama sekitar 2 jam. Bagi saya pribadi, setlist mereka masih kurang panjang. Saya masih inigin mendengarkan banyak lagu-lagu lama mereka seperti 'Aces High', 'The Clairvoyant', 'Flight of the Icarus', dan banyak lagi.. Penonton pun sepertinya masih belum puas, bahkan mereka (termasuk saya) masih berteriak memanggil Maiden kembali setelah encore.

Walaupun puas melihat pertunjukan Iron Maiden, saya masih merasa sound mereka kurang maksimal. Banyak yang berpendapat bahwa angin yang kencang menyebabkan sound mereka jadi sedikit pecah, memang saat pertunjukan kemarin angin cukup sering berhembus. Tapi sepertinya mayoritas penonton tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, bagi mereka yang penting penantian puluhan tahun mereka untuk menonton Iron Maiden secara live akhirnya terbayar.

Bruce Dickinson pun berjanji akan kembali lagi ke Indonesia suatu saat nanti. Semoga saja terealisasi dan teman-teman yang belum sempat naik haji metal bersama Iron Maiden bisa meraih gelar hajinya