Jumat, 16 November 2012

Fantastic Four #1 [review]

Fantasticfour_1_cover

Sama seperti beberapa judul dari Marvel lainnya, Fantastic Four juga termasuk dalam relaunch yang dilakukan Marvel dalam relaunch Marvel NOW! ini. Sebelum Marvel NOW! , Fantastic Four dikerjakan oleh Jonathan Hickman dan berbagai artis yang menemaninya; Ryan Stegman menjadi artist di issue terakhir Hickman. Kali ini Matt Fraction mengambil alih Fantastic Four bersama dengan Mark Bagley yang menjadi artisnya. Matt Fraction adalah salah satu writer terbaik Marvel saat ini, karyanya di antara lain adalah Invincible Iron Man, The Mighty Thor, dan salah satu judul Marvel terbaik saat ini yaitu Hawkeye. Karena inilah saya punya ekspektasi yang cukup tinggi kepada Fantastic Four karya Fraction karena Fantastic Four dari Hickman sebelumnya kurang memuaskan bagi selera pribadi.

Fantastic Four yang baru ini bercerita bahwa Fantastic Four; Mr. Fantastic, Invisible Woman, Human Torch, dan The Thing; bersama Franklin Richards dan Valeria Richards yang merupakan anak dari Mr. Fantastic dan Invisible Woman, akan mengambil libur selama setahun dan berpetualang ke luar angkasa.

Plot terdengar cukup simple. Tapi mengingat apa yang melatarbelakangi ide Mr. Fantastic untuk melakukan perjalanan ini, maka bisa terlihat bahwa cerita akan semakin kompleks ke depannya. Fraction meringkas semuanya dengan baik dalam buku ini. Mulai dari awal hingga ke konklusinya semua dikerjakan dengan baik, walaupun mungkin tidak sedahsyat karya Fraction sebelumnya. Balutan aksi dan science-fiction semuanya tertuang dalam Fantastic Four ini.

Artwork Mark Bagley cukup sesuai untuk para karakter dari Fantastic Four. Saya pribadi suka dengan sentuhannya pada The Thing yang membuatnya terkesan lebih tegap dan garang.

Fantastic Four dari Marvel NOW! ini adalah salah satu judul favorit saya dari Marvel NOW! sejauh ini. Sekali lagi, Fraction menunjukkan bahwa ia adalah salah satu aset dari Marvel. Menarik untuk disimak bagaimana Fraction juga mengerjakan komik anggota Fantastic Four lainnya yaitu FF (Future Foundation) yang dikerjakan bersama Michael Allred. For now, keep it up Matt!

Kamis, 15 November 2012

All New X-Men #1 [review]

All-new-x-men-1
Sejak relaunch dari Marvel, Marvel NOW! , diumumkan pada bulan Juli lalu, buku All New X-Men adalah salah satu buku yang sangat saya tunggu, terutama karena saya adalah penggemar X-Men sejak kecil.

Sama seperti buku-buku relaunch Marvel NOW! lainnya, All New X-Men mengambil tempat setelah event Avengers Vs. X-Men dan mini-seri AvX Consequences.

All New X-Men dimulai dengan Beast yang menderita karena mutasi yang ia alami. Kemudian cerita beralih ke belahan dunia lain, di mana seorang gadis bernama Eva mulai mengaktifkan kekuatan mutannya. Pasca Avengers Vs. X-Men, mutan mulai muncul lagi di berbagai belahan dunia. Cyclops yang menamakan dirinya sebagai pemimpin revolusi mutan, bersama dengan Magneto, Emma Frost, dan Magik, mulai mendekati beberapa mutan baru ini. Di saat yang sama, X-Men yang tergabung di sekolah Jean Grey School for Higher Learning milik Wolverine seperti Beast, Kitty Pryde, Iceman, dan Storm mulai kecewa dengan Cyclops dan merasa bahwa tindakan Cyclops justru akan meruntuhkan reputasi sekolah yang telah mereka bangun dengan susah payah. Dari sinilah ide untuk membawa lima anggota X-Men yang asli dari masa lalu ke masa sekarang muncul.

Bendis memulai masa baktinya di buku X-Men dengan sangat baik. Walaupun Bendis adalah salah satu writer utama Marvel, serial Avengers karyanya sebelum ini cenderung membosankan. Untungnya Bendis memulai masanya di X-Men di All New X-Men ini dengan baik. Bendis melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Gillen di Uncanny X-Men sebelumnya dan menggabungkannya dengan Wolverine & The X-Men karya Jason Aaron yang masih berlangsung. Sangat menikmati bagaimana Bendis menceritakan dan menggabungkan dua faksi X-Men yang berbeda dalam satu buku dan menceritakan sudut pandang keduanya yang berlawanan. Sedangkan ide untuk membawa lima X-Men dari masa lalu sebenarnya agak mengecewakan pada awalnya, seakan-akan Marvel kekurangan ide, tapi nampaknya Bendis mempunyai banyak ide untuk X-Men ke depannya dengan membawa lima X-Men ini dari masa lalu. Saya pun sekarang menjadi tak sabar dan ingin melihat perubahan apa yang akan dibawa lima X-Men awal ini ke X-Men di masa sekarang.

Untuk bagian art, saya menyukai apa yang Stuart Immonen kerjakan untuk beberapa desain karakter di buku ini, terutama Beast dan Iceman yang tampak lebih ganas dari sebelumnya. Selain itu beberapa scene di mana Cyclops dan kawan-kawannya mengamul sangat definitif dan dikerjakan dengan apik.

Ini adalah sebuah awal yang menyenangkan untuk era baru dari X-Men setelah berbagai macam kejadian yang telah menimpa kaum mutan dan X-Men secara keseluruhan. Bendis pun akan menulis seri X-Men lainnya yaitu Uncanny X-Men bersama Chris Bachalo. Akan sangat menarik untuk melihat bagaiman dua seri ini saling mempengaruhi satu sama lain. For now, good work Bendis!

Rabu, 03 Oktober 2012

Looper [review]

Looper
Sebuah film science-fiction dengan tema time travel sudah sangat jarang terlihat akhir-akhir ini. Tema time travel sendiri adalah sebuah tema yang cukup sulit dan dapat membingungkan para penonton dengan berbagai macam paradoks dan kemungkinan yang ada dalam sebuah space-time continuum.

Akan tetapi, di dalam Looper, Rian Johnson dengan cerdas memanfaatkan semua kesulitan itu dan mengemasnya menjadi sebuah film yang tak hanya memancing daya berpikir penontonnya, tapi juga membuat sebuah film yang menyenangkan secara keseluruhan.

Looper sendiri berlatar belakang dunia di tahun 2044, menceritakan tentang Joe (Joseph Gordon-Levitt) seorang eksekutor yang disebut 'Looper' yang bertugas untuk mengeksekusi targetnya yang dikirim dari 30 tahun di masa depan di mana mesin waktu untuk menjelajahi waktu telah diciptakan dan dikendalikan oleh organisasi kriminal. Ketika organisasi ingin menghentikan kontrak kerja para 'Looper' mereka mengirimkan diri para 'Looper' dari masa depan untuk dieksekusi oleh sang 'Looper' itu sendiri atau yang disebut sebagai "closing the loop." Permasalahan muncul ketika Joe dari masa depan muncul di depan Joe di masa kini. 'Old Joe' (Bruce Willis) dengan sigap mampu menghindari eksekusi dari Joe muda dan melarikan diri. Kemudian kedua Joe menjadi buronan polisi dan organisasi kriminal tersebut sementara keduanya juga disibukkan oleh misi pribadi mereka masing-masing untuk menyelamatkan kehidupan dan masa depan mereka.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, film dengan tema time travel memang sulit dieksekusi dan membuat penonton berpikir ketika menontonnya. Untungnya Rian Johnson dengan cerdasnya menulis skrip yang membuat tema ini terasa lebih ringan dan penonton tidak perlu untuk berpikir terlalu keras untuk dapat menikmatinya. Selain itu skrip dari Johnson juga sangat cerdas dari segi pesan moral dan berbagai pertanyaan tentang filosofi hidup yang menempel di kepala setelah selesai menonton film ini.

Pujian juga patut diberikan kepada Joseph Gordon-Levitt, lelaki pekerja keras Hollywood tahun 2012, yang bisa dibilang mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya di film ini. Di film ini Levitt memang didandani dan diberi berbagai macam sentuhan efek yang membuatnya terlihat seperti Bruce Willis muda dari segi muka. Tapi, dari segi tingkah laku dan gerakannya di film ini, semuanya sempurna dan sangat mirip dengan Bruce Willis.

Walaupun bukan bintang utama di film ini, Emily Blunt juga membuktikan bahwa dia pantas untuk peran utama karena dia mampu mencuri perhatian di saat kamera terfokus padanya. Tokoh yang diperankan Blunt di film ini sekilas terlihat mirip dengan Sarah Connor dari serial Terminator, dan Blunt mampu memerankannya dengan sangat baik.

Secara keseluruhan, Looper adalah film yang menakjubkan, ditulis dan disutradarai dengan sempurna oleh Rian Johnson. Film science-fiction terbaik untuk tahun ini, atau minimal salah satu dari film terbaik yang dirilis tahun ini. Tontonlah film ini minimal sekali, atau lebih baik lagi dua kali. It is that good.

Rabu, 12 September 2012

The xx - Coexist [review]

Coexist

Setelah album debut yang menjanjikan, album kedua seringkali menjadi batu sandungan. Ini adalah kasus yang sering ditemukan di antara band-band atau penyanyi masa kini.

Album self-titled debut the xx yang dirilis pada tahun 2009 adalah sebuah album yang meredefinisi sebuah genre dengan melakukan dekonstruksi total. The xx menyajikan indie pop manis dengan sebuah konsep yang sangat minimalis. Petikan gitar yang gentle, vokal halus bagai bisikan dari Romy Madley Croft dan Oliver Sim, dan beat-beat dan produksi khas Jamie Smith.

Seperti kata Pitchfork, pilihan untuk album kedua hanya ada: melangkah ke teritori yang baru atau menyempurnakan apa yang sudah ada. The xx memilih jalur yang kedua. Walaupun terdengar tidak mungkin untuk menelanjangi sebuah konsep musik yang sudah sangat minimalis, tapi itulah yang mereka lakukan di album ini. Sound gitar yang bagai sebuah garis yang pudar, bisikan halus dari kedua vokalis, dan Jamie semakin meminimalisir beat khas miliknya dan lebih banyak menciptakan sound production yang menghantui sepanjang album.

Ambil saja 'Angels' sebagai contoh. Lead single dari album ini mencontohkan bagaimana komposisi yang minimalis mampu menyentuh lubuk hati terdalam pendengarnya. Ditambah lagi dengan lirik yang sendu "Being in love with you as I am." yang bahkan mampu meluluhkan hati lelaki termaskulin. Mungkin bagi mereka yang berharap bahwa the xx, terutama Jamie, akan lebih mengeksplorasi sound baru, akan sangat kecewa dengan album ini. Album ini sepenuhnya berjalan lambat dari satu lagu ke lagu berikutnya secara natural, musiknya sangat terfokus dan terikat, gelap namun indah.

Tidak ada alasan untuk membenci the xx atas pilihan jalan yang mereka pilih, karena secara keseluruhan mereka telah berkembang lebih baik lagi di album ini.

Saya sangat menikmati album 'Coexist' ini, dan saya menumukan diri saya ditarik untuk mendengarkan album ini lagi dan lagi. Silakan nikmati album ini dan biarkan the xx membius telinga dan pikiran anda.

The xx - Coexist [review]

[[posterous-content:pid___0]] 0 0 1 54 308 Monash University 2 1 361 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Setelah album debut yang menjanjikan, album kedua seringkali menjadi batu sandungan. Ini adalah kasus yang sering ditemukan di antara band-band atau penyanyi masa kini.

Album self-titled debut the xx yang dirilis pada tahun 2009 adalah sebuah album yang meredefinisi sebuah genre dengan melakukan dekonstruksi total. The xx menyajikan indie pop manis dengan sebuah konsep yang sangat minimalis. Petikan gitar yang gentle, vokal halus bagai bisikan dari Romy Madley Croft dan Oliver Sim, dan beat-beat dan produksi khas Jamie Smith.

Seperti kata Pitchfork, pilihan untuk album kedua hanya ada: melangkah ke teritori yang baru atau menyempurnakan apa yang sudah ada. The xx memilih jalur yang kedua. Walaupun terdengar tidak mungkin untuk menelanjangi sebuah konsep musik yang sudah sangat minimalis, tapi itulah yang mereka lakukan di album ini. Sound gitar yang bagai sebuah garis yang pudar, bisikan halus dari kedua vokalis, dan Jamie semakin meminimalisir beat khas miliknya dan lebih banyak menciptakan sound production yang menghantui sepanjang album.

Ambil saja 'Angels' sebagai contoh. Lead single dari album ini mencontohkan bagaimana komposisi yang minimalis mampu menyentuh lubuk hati terdalam pendengarnya. Ditambah lagi dengan lirik yang sendu "Being in love with you as I am." yang bahkan mampu meluluhkan hati lelaki termaskulin. Mungkin bagi mereka yang berharap bahwa the xx, terutama Jamie, akan lebih mengeksplorasi sound baru, akan sangat kecewa dengan album ini. Album ini sepenuhnya berjalan lambat dari satu lagu ke lagu berikutnya secara natural, musiknya sangat terfokus dan terikat, gelap namun indah.

Tidak ada alasan untuk membenci the xx atas pilihan jalan yang mereka pilih, karena secara keseluruhan mereka telah berkembang lebih baik lagi di album ini.

Saya sangat menikmati album 'Coexist' ini, dan saya menumukan diri saya ditarik untuk mendengarkan album ini lagi dan lagi. Silakan nikmati album ini dan biarkan the xx membius telinga dan pikiran anda.

 

Senin, 27 Agustus 2012

The Expendables 2 [review]

The-expendables-2-poster2
Era action heroes movie memang sudah lewat sejak lama, tapi nampaknya itu tidak menyurutkan aksi para aktor-aktor action heroes kawakan ini untuk kembali berlaga di layar lebar untuk membuktikan bahwa mereka masih belum habis.

Ketika film pertama The Expendables dirilis tahun 2010, seakan memberi ekspektasi sebuah revival dari film-film bergenre action hero. Walaupun film tersebut cukup jatuh dari ekspektasi yang dibangun dari ensemble castnya, tapi The Expendables cukup memuaskan kerinduan akan masa-masa film action heroes yang dulu sangat terkenal.

Kemudian di tahun 2012 ini dirilislah sekuelnya, The Expendables 2. Dengan cast yang lebih banyak dan lebih dahsyat dari sebelumnya, film ini menjanjikan lebih banyak aksi dibandingkan pendahulunya.

The Expendables 2 ini masih mengisahkan para mercenaries yang dipimpin oleh Barney Ross (Sylvester Stallone) dalam menjalankan misi-misi berbahaya. Tim ini terdiri atas Lee Christmas (Jason Statham), Yin Yang (Jet Li), Hale Caesar (Terry Crews), Toll Road (Randy Couture), Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), dan anggota terbaru Billy the Kid (Liam Hemsworth).

Ross kemudian terpaksa menerima misi yang diberikan oleh Mr. Church (Bruce Willis) untuk mengambil kembali sebuah barang dari bangkai pesawat yang terjatuh di Albania, ditemani oleh seorang ahli tehnik yang dikirim oleh Church, yaitu Maggie Chan (Yu Nan). Dalam misi inilah Ross dan kawan-kawan bertemu Vilain (Jean Claude Van-Damme) yang juga berusaha mengambil barang dari pesawat tersebut. Kemudian, misi pengambilan baran ini pun berubah menjadi misi balas dendam ketika ada salah satu anggota tim tewas dibunuh oleh VIlain.

Dibandingkan pendahulunya, The Expendables 2 menawarkan aksi yang lebih heboh. Tembak-tembakan, ledakan, hingga hand-to-hand combat semua lengkap di film ini, bahkan dalam skala yang lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya.

Dari segi script, film ini jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Terlihat sekali bagaimana Stallone belajar dari kesalahannya terdahulu dan membuat sebuat sebuah film yang tak hanya bisa dinikmati dari aksinya saja, namun juga dari segi cerita. Jokes dan punchline yang menggunakan referensi film yang dahulu diperankan para aktor yang bermain di film ini juga sangat dahsyat, yang paling jelas tentu saja jokes ketika Arnold Schwarzenegger dan Chuck Norris muncul. Sangat menghibur.

Overall, film ini sangat saya rekomendasikan. Sangat menghibur dari segala aspek.

Rabu, 08 Agustus 2012

Soundwave Festival 2013

Soundwave_2013
Soundwave Festival adalah salah satu festival terbaik yang dimiliki Australia. Pengalaman saya menyambangi festival ini pada tahun 2012 ini malah membuat saya yakin ini adalah festival terbaik di Australia; Crowd yang dahsyat, panggung yang tersusun rapi, dan berbagai macam pengalaman menyenangkan lainnya. Lineup yang dibawa di Soundwave Festival 2012 juga sangat dahsyat karena banyak performers yang merupakan band favorit, dan cukup pedih mengingat ada banyak band favorit yang harus dilewatkan demi mengejar band lain karena bentrokan jadwal.

Untuk tahun 2013, Soundwave kembali dengan lineup yang bisa dibilang salah satu lineup terbaik dalam sejarah mereka. Metallica sebagai headliner, bersama Linkin Park, blink-182, Paramore, Anthrax dan banyak lagi, yang mengisi daftar lineup Soundwave tahun 2013. Memang tidak seberat lineup tahun lalu yang bisa dibilang terbaik dalam sejarah Soundwave, tapi dijamin Soundwave 2013 akan memberi excitement tersendiri, apalagi dengan adanya Metallica dan blink-182 dengan formasi lengkap.

Akan menarik melihat bagaimana festival ini tahun depan, mengingat musim panas di Australia adalah musim yang dipenuhi festival musik lain yang tak kalah keren. Kalau sempat mampir ke Australia pada musim panas, jangan lupa untuk mampir ke festival ini. So, see you soon in the mosh pit?