Rabu, 25 Juli 2012

The Dark Knight Rises; A Fitting Conclusion for an Epic Trilogy

0 0 1 699 3987 Monash University 33 9 4677 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Tdkr-poster
Ada berapa banyak trilogi film yang sukses di dunia perfilman? Kita mungkin bisa menyebut The Lord of the Rings Trilogy atau mungkin trilogy The Godfather. Tapi dalam dunia film superhero, apakah ada trilogy film yang terbilang sukses besar? Ada dua trilogy film superhero yang membekas di ingatan saya: Spider-Man trilogy karya Raimi dan X-Men trilogy. Kedua trilogy film superhero tersebut, jujur saja, terbilang sukses di dua film awal, terutama di film kedua, Spider-Man 2 dan X2 yang fenomenal pada masa itu. Sayangnya, film ketiga yang berfungsi sebagai penutup trilogy malah hancur dengan sukses, membuat saya pribadi trauma sampai sekarang.

Berkebalikan dengan dua trilogy film superhero yang disebutkan di atas, The Dark Knight rises sebagai film penutup trilogy Batman karya Christopher Nolan adalah sebuah contoh 'How a trilogy should end.'

Tdkr-batman
Sebagai penggemar Batman dari kecil, saya masih ingat bagaimana film Batman Begins (2005) merubah image Batman yang saya kenal. Kemudian dilanjutkan dengan The Dark Knight (2008), sebuah sekuel maha sempurna dan mengguncang dunia perfilman saat itu. To be honest, saya sendiri tidak berekspektasi bahwa The Dark Knight Rises akan melampaui pencapain The Dark Knight yang hampir mencapai kesempurnaan itu.

The Dark Knight Rises sendiri diceritakan mengambil tempat 8 tahun setelah The Dark Knight, di mana seperti kita tahu, Harvey Dent (Two Face) tewas dan Batman diburu karena dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab. Bruce Wayne (Christian Bale) pun menarik diri dari dunia luar, merasa bersalah atas berbagai event yang terjadi di The Dark Knight, dan berhenti beraksi sebagai sang caped crusader. Tapi ketika ancaman yang baru muncul ke Gotham, Bruce Wayne harus keluar kembali sebagai Batman untuk menyelamatkan Gotham City dari kehancuran.

Robin_john_blake
We can’t put The Dark Knight Rises on the same level as The Dark Knight. The Dark Knight adalah sebuah pencapaian tersendiri yang mendekati kesempurnaan dari Christopher Nolan. The Dark Knight Rises, walaupun tidak sedahsyat The Dark Knight, adalah sebuah film yang memuaskan saya sebagai penggemar Batman. The Dark Knight Rises memang tidak se-intense The Dark Knight, di mana kita sudah disuguhkan ketegangan sejak awal film. The Dark Knight Rises dibangun secara perlahan, bahkan bisa terasa membosankan kalau anda tidak sabar. Dengan banyaknya karakter baru yang dikenalkan di film ini, Nolan berusaha menjelaskan hubungan antar karakter dengan lebih jelas sehingga penonton tidak kebingungan. Munculnya tokoh-tokoh baru seperti John Blake (Joseph Gordon Levitt), Selina Kyle (Anne Hathaway), dan Miranda Tate (Marion Cotillard) memberi kompleksitas dan berbagai macam unexpected twist tersendiri di film ini. Selain itu, The Dark Knight Rises juga menyuguhkan lebih banyak drama dan memainkan emosi, terutama dalam hubungan Bruce Wayne dan Alfred Pennyworth (Michael Caine)

Tdkr-catwoman
Di departemen tokoh antagonis, ada Bane (Tom Hardy) yang berusaha menghancurkan Gotham hingga menjadi abu. Berbeda dengan tokoh Joker yang plot dan motif tindakannya berada di titik abu-abu (at least for me), Bane benar-benar ingin menghancurkan Gotham dan juga Bruce Wayne. Tokoh Bane pun disesuaikan dengan imajinasi Nolan, cukup berbeda dari Bane versi komik namun masih ‘stay true’ dengan karakteristik utama Bane itu sendiri.

Bane-batman
Film The Dark Knight Rises ini sendiri mengambil banyak referensi, baik dari dua film sebelumnya, komik Batman, dan juga sebuah novel klasik yaitu ‘A Tale of Two Cities’ karya Charles Dickens yang menjadi sumber inspirasi Nolan dalam menulis script film ini. Bahkan bagi beberapa orang, The Dark Knight Rises juga kental nuansa politiknya. Bahkan film ini mengingatkan saya kepada ‘the occupy movement’ yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

Overall, walaupun The Dark Knight Rises bukanlah film yang sempurna secara keseluruhan (yes, even Christopher Nolan made mistakes, deal with it), ini adalah film yang sempurna untuk mengakhiri sebuah trilogy. Saya sangat menyukai setiap momen yang ada di dalam film ini. Seperti apa yang dikatakan teman saya, The Dark Knight Rises mengembalikan kecintaan fans komik Batman terhadap filmnya. The Dark Knight Rises memang tidak segelap dan thrilling seperti The Dark Knight, tapi bisa jadi itulah poin plus dari film ini. Seorang pahlawan yang ‘spiritually and mentally broken’, kembali, dan kemudian dipatahkan lagi (literally), dan kembali lagi dan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kotanya; sangat khas superhero bukan?

Thank you Christopher Nolan, for an amazing trilogy. Kemegahan dan kedahsyatan karyamu dalam trilogy Batman ini tak akan terlupakan. Sebagai penggemar Batman dan film, saya sangat berterima kasih.

 

 

 

Senin, 09 Juli 2012

The Amazing Spider-Man [review]

Spidey
What's the first thing that comes to your mind when you hear the word 'reboot'? A different take on a story that had existed before? Or just a simple remake with new casts and stuffs like that?

Menurut wikipedia, reboot (in terms of fiction series) adalah: "to discard much or even all previous continuity in a series and start anew with fresh ideas." Dalam deskripsi ini, seorang penulis bisa menganggap cerita yang sebelumnya sudah ada sebagai irelevan dan menciptakan sebuah dunia baru yang lepas dari cerita sebelumnya.

Film The Amazing Spider-Man yang dirilis tahun 2012 ini merupakan reboot dari trilogi film Spider-Man karya Sam Raimi yang sudah pernah dirilis beberapa tahun lalu. Ketika mendengar berita tentang reboot film Spider-Man ini tahun lalu, saya merasa ide ini cukup blasphemous walaupun juga excited di saat yang sama (it's Spider-Man dude!). Reboot film superhero Marvel sudah pernah dilakukan sebelumnya, yaitu di film Hulk (2003) yang dilanjutkan di film The Incredible Hulk (2008). Reboot Hulk terbilang cukup sukses (at least for me) dan membuat ekspektasi bahwa reboot Spider-Man ini pun akan melebihi sukses film karya Raimi sebelumnya (atau paling tidak menyamainya).

Dalam usahanya untuk menyegarkan cerita Spider-Man, Marc Webb (500 Days of Summer) didapuk untuk menyutradarai film ini. Ditambah lagi dengan cast baru semacam Andrew Garfield (Peter Parker) dan Emma Stone (Gwen Stacy) yang lebih akrab di mata penonton film masa kini, diyakini film ini akan mampu menarik audience lebih banyak (and it does!)

Images

Cerita film ini masih menceritakan tentang awal mula Peter Parker menjadi Spider-Man. Mungkin banyak orang bertanya: "Di mana Mary Jane?" Pasangan iconic dari sang webhead memang tidak muncul di film ini, digantikan oleh Gwen Stacy yang memang cukup terkenal di kalangan fans Spider-Man. Keputusan untuk memasukkan Gwen sebagai love interest dari Peter di film ini adalah sebuah keputusan yang bagus, selain untuk mengenalkan karakter Gwen lebih dalam (she only appeared briefly on Spider-Man 3), sekaligus untuk memberi penyegaran di dalam cerita Spider-Man ini.

Curt Connors aka The Lizard (Rhys Ifans) menjadi villain utama di film ini. Karakter ini mungkin tidak terlalu dikenal di luar pembaca komik Spider-Man, sebuah pilihan yang obscure memang, walaupun untuk konteks cerita film ini kehadiran Curt Connors sangatlah vital.

Overall, this movie is quite enjoyable, walaupun ekspektasi berharap akan lebih Amazing daripada apa yang tersaji di layar lebar selama lebih dari 2 jam ini. Pace film ini memang dibangun secara perlahan, bahkan Peter belum menjadi Spider-Man di setengah jam permulaan film ini. Pace yang lebih lambat justru membangun penokohan karakter, terutama Peter Parker, menjadi lebih kuat.

Yang saya suka dari film ini adalah penokohan Peter Parker yang lebih kuat dibanding film Spider-Man karya Raimi sebelumnya. Di sini Peter benar-benar menunjukkan sisi kejeniusannya dan ketika menjadi Spider-Man personality uniknya yang hobi berbicara pun juga muncul. Berbeda dengan Spider-Man sebelumnya yang cenderung tidak banyak bicara.

Romantic fling antara Peter dan Gwen pun juga oke, mengingat sutradara film ini sebelumnya adalah sutradara film rom-com. Chemistry antara Garfield dan Stone sebagai pasangan di film ini sangat sempurna. Peter sebagai lelaki canggung yang sedang beranjak dewasa dan belajar akan tanggung jawab seakan melengkapi Gwen yang digambarkan sebagai perempuan yang lebih dewasa, tegas, dan berani. Lupakan saja Kirsten Dunst sebagai Mary Jane.

Hal yang membuat saya tidak menyukai film ini adalah Lizard, sang villain. Mungkin karena image Lizard terlanjur menempel, Lizard dalam film ini sangatlah jelek, mengingatkan akan The Abomination di film The Incredible Hulk atau Shin Kamen Rider (yang memang buruk rupa).

Dari segi musik, scoring dan lainnya, cukup oke. Walaupun ada satu momen di mana lagu Coldplay yang saya lupa judulnya merusak momen di salah satu adegan.

If you don't know what movie to watch, watch this one. Sebanding dengan film Spider-Man pertama karya Raimi, walaupun tidak sekeren film Spider-Man 2. Dan seperti film Spider-Man sebelumnya, The Amazing Spider-Man ini akan dibuat menjadi trilogi. Excited? You bet.

Jumat, 06 Juli 2012

ViViD - Infinity [review]

0 0 1 400 2282 Monash University 19 5 2677 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

[[posterous-content:pid___0]]ViViD adalah band yang relatif muda di scene music Jrock dan visual kei di Jepang. Band ini baru terbentuk pada tahun 2009 dan langsung dikontrak oleh salah satu label visual kei terkenal di Jepang sana, PS Company. ViViD sendiri terdiri atas Shin (voc), Reno (guitar), Ryoga (guitar), IV (bass), dan Ko-Ki (drums)

Ketika debut single mereka, Take-Off, dirilis, mereka langsung memberi impresi yang positif bagi saya pribadi. Benar-benar mewakili sebuah bentuk visual rock modern dan cukup memberi nafas baru bagi musik visual kei yang terkesan stagnan pada masa itu.

Dan setelah 3 tahun, akhirnya mereka mampu merilis album debut mereka ini, Infinity, yang sekaligus menjadi album major mereka. Perubahan status mereka menjadi band major memang cukup cepat, apalagi mengingat mereka baru debut 3 tahun lalu.

Okay, kembali ke album ini. Album ini adalah sebuah usaha yang patut diapresiasi dari anak-anak ViViD ini. Dibuka dengan ‘live your life’ yang langsung menghentak dengan solo gitar yang manis dan bass line yang menyenangkan untuk didengar, energetic, dan cocok untuk mengawali album ini.

‘Real’ adalah single utama album ini yang juga menjadi ost dari anime Gundam Age. Riff gitar yang catch dengan sound synthesizer yang mengingatkan saya akan band oshare-kei yang sudah bubar, Canzel. Sebuah track yang memang pantas untuk jadi single utama.

Sayangnya setengah awal album ini terasa cukup membosankan, terasa repetitif dan tidak menawarkan sesuatu yang berbeda.

 

Setelah sebuah instrumental track yang cukup epic, ‘explosion’, barulah mereka bermain lebih liar. Contohnya track ‘RIDE on time’ di mana sang bassis, IV bermain dengan maksimal sejak intro dengan bass line yang berat namun juga groovy.

Dan untuk menutup album ini mereka memilih ‘EVER’ sebuah track down tempo yang sepertinya memang didesain untuk menutup album ini.

Secara keseluruhan, album ini sebuah usaha yang patut untuk diapresiasi mengingat ini adalah album debut mereka setelah malang melintang di dunia music Jepang. Sayang album ini cukup membosankan di awal-awal, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, musiknya terkesan sangat repetitif. Bagaikan mesin mobil yang perlu dipanaskan, setengah album ini merupakan proses memanasi mesin. Sayangnya walaupun sudah dipanasi cukup lama, mereka kehabisan tenaga dengan cepat karena track yang memacu adrenalin hanya ada empat buah sebelum ditutup oleh ‘EVER’ sebagai track penutup.

Secara performance, IV sebagai bassis sangat menonjol di album ini. Reno sebagai lead guitarist cenderung berusaha mencuri pertunjukan karena ia hampr selalu pamer kebolehannya bermain solo gitar yang epic tapi gagal karena selalu terhenti di tengah-tengah.

Overall, album ini bisa diberi rating 3/5. Sebenarnya kalau mengingat debut mereka yang sangat memuaskan, seharusnya mereka bisa lebih baik lagi. Tapi mengingat status mereka kini adalah band major label, tak heran kalau ada intervensi pihak label yang mungkin membentuk musik mereka menjadi seperti apa yang ada di album ini.

Minggu, 24 Juni 2012

John Mayer - Born and Raised [review]

John-mayer-born-and-raised
John Mayer terkenal dengan lagu-lagunya yang cukup flirty (e.g. 'Your Body is a Wonderland') atau seperti di album sebelumnya, lagu-lagu tentang patah hati akut yang seakan tidak akan pernah sembuh. Dengan sentuhan blues/pop yang selalu setia di album-albumnya, John dengan setia menyentuh hati para wanita dan kaum yang tersakiti hatinya.

Album 'Battle Studies' karya John Mayer sebelumnya memang adalah sebuah karya curahan hati pribadi milik John yang handal. Akan tetapi, John sepertinya sudah sukses melupakan masa lalunya yang pedih itu, sembari mengambil arah yang baru dalam bermusik di album kelima ini, 'Born and Raised'.

Di 'Born and Raised', John melebarkan sayapnya dengan mengambil unsur musik Americana; dari folk hingga country. Mungkin dari track pertama kalian akan heran dan bertanya-tanya "Is this really John Mayer?", ya ini adalah John Mayer yang kalian kenal. Walaupun memasukkan unsur Americana yang terasa seperti Bob Dylan atau Neil Young, John tetap tak lupa memasukkan akar bluesnya ke dalam album ini.

'Shadow Days' adalah single pertama dari album ini. Dari lagu ini, John sudah bercerita kalau dia sudah meninggalkan masa lalunya yang kelam yang tergambar dari lirik "..got a tough time, had a rough start. But my shadow days are over.." Di lagu ini pula terasa perpaduan blues khas John dengan unsur musik Americana yang terdengar merdu.

"Now the cover of a Rolling Stone, ain't the cover of a Rolling Stone." di lagu 'Speak for Me' terasa menggambarkan bahwa dia sudah berubah, bukan seorang rockstar yang pernah menjadi cover majalah Rolling Stone lagi. Dan track ini pun adalah sebuah ballad folk yang manis, dalam kepala saya terbayang seorang cowboy kesepian yang memainkan gitar di lagu ini sambil memandangi alam yang sepi di wild west sana.

Track-track lain seperti 'Born and Raised', 'Love is a Verb' juga layak untuk disimak.

Secara keseluruhan, album ini adalah sebuah fine effort dari John Mayer dalam meredefinisi musiknya dan memberi sentuhan-sentuhan baru. John masih setia memanjakan pendengar lamanya dengan sentuhan blues, namun seperti musisi pada umumnya, tidak heran kalau ia mencoba bereksplorasi dengan memainkan genre yang baru di albumnya. Saya setuju dengan Rolling Stone yang memberi album ini solid 4 stars out of 5. Sebuah album yang menyenangkan dan juga berani.

Senin, 18 Juni 2012

Prometheus dan Berbagai Pertanyaan Di Baliknya

220px-prometheusposterfixed

Beberapa waktu lalu saya baru saja selesai menonton film Prometheus, yang heboh di dunia maya dengan viral campaignnya dan hebohnya testimoni audiens yang baru saja menontonnya.

Sebagai orang yang cukup selektif dalam memilih film yang akan ditonton, saya membaca beberapa review yang beredar di internet, baik dari kritikus maupun orang biasa. Reaksi mereka bermacam-macam, dari yang memuji film ini sampai yang bereaksi dengan kalimat "What the fuck?"

Walaupun awalnya agak ragu untuk menonton film ini, tapi karena penasaran dengan apa yang membuat film ini jadi sangat "What the fuck?" dan membuat orang-orang heboh, berangkatlah saya menonton film ini bersama Ines dan mas Bambang .

Oke, setelah menonton film ini selama kurang lebih dua jam, saya merasa telah di-'mindfuck' dan mengeluarkan kalimat "What the fuck?" berkali-kali.

120607_movies_prometheus
Saya tidak ingin membuat ini menjadi review film karena untuk film ini saya sama sekali tidak ada niatan untuk mereview. Terutama setelah cerita yang sangat mindfuck itu semakin tidak ada pikiran untuk membuat reviewnya sama sekali karena otak benar-benar berpikir banyak selama menonton film ini.

Jadi inti cerita dari film ini (tenang, bukan spoiler bagi yang belum menontonnya) adalah pertanyaan besar tentang penciptaan kita sebagai manusia dan seberapa jauh kita akan melangkah untuk memenuhi rasa keingintahuan kita sebagai manusia.

Saya pribadi, sebagai orang yang skeptis kepada agama dan antara percaya dan tidak dengan eksistensi Tuhan, semakin mempertanyakan apa yang saya percayai dan membandingkan dengan apa yang dipercaya orang lain. Was it God the one who created us? Or did other beings created us, humans? Ini baru satu dari sejumlah pertanyaan lainnya.

Prometheus
Beberapa jam setelah menonton ini, kepala saya masih memikirkan esensi film ini. Jujur saja, dari segi plot film ini sangatlah pointless. Tapi saya rasa, bukan itu yang hendak disampaikan Ridley Scott sampaikan lewat film ini. Mungkin belia hendak menguji seberapa jauh iman kita lewat film ini (or so what I think). Bahkan mungkin ingin menguji intelegensia para audiens, yang bahkan sampai memunculkan Prometheus Discussion Group di timeline twitter saya.

Dengan banyaknya beban yang mengganjal setelah menonton film ini, saya merasa perlu menonton film ini untuk kedua kalinya for the sake of getting more mindfuck and finding the answers.

Jadi, apakah anda yang sudah menonton merasa tertantang, baik intelegensia maupun keimanannya? Bagi yang belum, apakah anda siap menontonnya?

Minggu, 27 Mei 2012

The Temper Trap - The Temper Trap [review]

The-temper-trap-new-album-summer-2012

Bagi band/artist baru, album kedua adalah suatu ujian berat yang harus mereka lewati. Terlebih bila album pertama mencapai kesuksesan yang melebihi ekspektasi. Jatuhlah ekspektasi bahwa album kedua wajib hukumnya untuk lebih dahsyat dari album pertama, atau minimal menyamai pencapaian album pertama

Kurang lebih inilah ekspektasi pribadi dan mungkin pendengar The Temper Trap lainnya. Setelah album 'Conditions' yang sukses secara komersial dan pujian, tentu semua orang berharap bahwa album kedua mereka yang self-titled ini akan lebih megah dan lebih dahsyat lagi.

Tentu semua orang tidak bisa menyangkal kesuksesan dan megahnya sebuah single berjudul 'Sweet Disposition' dari album sebelumnya. Apakah dengan begitu album kedua ini akan penuh lagu bernuansa seperti 'Sweet Disposition' lagi? Well, harapan anda keliru dan kalau anda berharap banyak kepada album ini, bersiaplah untuk cukup dibuat kecewa.

"Well, they’ve talked a lot about their love of pasting ’80s-style synths over everything in the build-up to ‘The Temper Trap’" begitulah kutipan dari NME dan memang begitulah musik yang tertuang di album ini. Segala macam synth khas 80an yang terkadang terasa 'new wave-esque' tersebar di lagu-lagu di album ini.

Single pertama 'Need Your Love' memang terasa megah dengan sound synth yang berpadu dengan sound gitar minimalis dari Lorenzo Silitto, sementara vokal falsetto Dougy Mandagi menggema dengan kencangnya.

Setelah 'Need Your Love' (yang bisa dibilang satu-satunya lagu terbaik di album ini), tempo album pun menurun hingga titik jenuh pun bisa dicapai sebelum album ini sepenuhnya selesai.

'Trembling Hands' mungkin memiliki intro yang megah, tapi sayang lagu ini berakhir anti-klimaks.

Selebihnya, lagu-lagu lain terlalu mengandalkan synth yang sebenarnya tidak terlalu esensial dan terlalu berlebihan pemakaiannya, seperti di lagu 'Never Again', 'I'm Gonna Wait' atau 'Miracle'.

Lagu 'Rabbit Hole' sebenarnya cukup memuaskan dengan kembali mengandalkan permainan distorsi gitar di dalamnya, tapi sayangnya tidak cukup untuk menyelamatkan album ini.

Overall, album ini jatuh dalam kategori biasa saja, cenderung membosankan malah. Untuk penilaian, sesuai apa kata NME, cukup dengan nilai 5/10. Atau, in my personal opinion, cukup dengan nilai 2/5. Sangat disayangkan memang, di saat band lain justru meneguhkan identitas mereka di album kedua, The Temper Trap justru bagai kehilangan visi dan identitasnya. At least mereka cukup bertanggung jawab dengan tidak menjadi band one-hit wonder dan menghilang setelah album pertama.

Sabtu, 12 Mei 2012

L'Arc~en~Ciel live in Jakarta; Sebuah momen surealis nan nyata

B4fdc32e942511e19dc71231380fe523_7
Ada masanya di mana menonton sebuah konser bukan hanya demi kesenangan semata, tapi demi kebutuhan spiritual; memuaskan jiwa-jiwa yang ingin menonton band pujaan setelah menunggu dalam waktu cukup lama.

Momen konser demi kebutuhan spiritual adalah momen yang langka. Tapi bagi saya dan ribuan orang lainnya, momen ini akhirnya terealisasikan di hari Rabu, tanggal 2 Mei 2012, malam kemarin. Ya, L’Arc~en~Ciel akhirnya, untuk pertama kalinya, menghentak Jakarta setelah sekian tahun melewatkan Jakarta dari agenda tur dunia mereka.

Saya pribadi sudah menggemari band ini sejak tahun 2004. Kalau tidak ada band ini, entah bagaimana jadinya hidup saya sekarang ini (terkesan berlebihan namun serius). Dibandingkan saya, yang lain jelas sudah menunggu lebih lama, ada yang sudah menanti 10-12 tahun lamamnya. Tapi entah itu fans baru atau fans lama, semua Cielers (sebutan fans L’Arc) adalah sama. Tidak peduli ngefans berapa lama atau perbedaan kelas menontonnya, perasaan kami semua ke band ini adalah sama.

Dalam sejarah pengalaman saya pergi ke berbagai konser, bisa dibilang ini adalah konser paling ‘gila’. Karena saya bela-belain terbang selama 6 jam dari Melbourne ke Jakarta demi konser ini, bahkan saya sempat menyambangi hotel di mana mereka menginap dan mengadakan konferensi pers sehari sebelum konser. Sebuah momen surealis pertama adalah ketika melihat mereka dalam jarak sekitar 2 meter di hotel setelah mereka mengadakan konferensi pers. Saya dan Atri (@chroniclea3) yang memang sudah menunggu mereka benar-benar speechless ketika mereka lewat di depan mata.

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-5

Di saat hari H konser, semua euphoria menumpuk jadi satu. Saya bahkan sudah berangkat dari sebelum jam 12 siang, walaupun tidak langsung menuju venue. Ketika sampai di venue di sekitar jam 3 sore, lautan manusia sudah memenuhi area depan gerbang padahal gerbang pertama baru dibuka jam 4 sore. Setelah melewati gerbang pertama, masih ada antrian lagi untuk menembus gerbang kedua yang dibuka jam 6.30 malam. Memasuki area konser, saya bagaikan anak kecil yang baru pertama kali masuk taman bermain, senangnya bukan main, apalagi karena posisi saya termasuk pas di depan panggung. Masuk area bukan berarti konser langsung mulai. Setelah masuk, kami masih harus menunggu selama satu setengah jam lagi sebelum konser benar-benar dimulai.

Tapi apalah arti semua mengantri berjam-jam itu ketika hyde, tetsuya, ken, dan yukihiro memasuki panggung. Ketika mereka muncul di panggung rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, bahkan Ines (@inestjokro) katanya sudah mengeluarkan air mata di lagu pertama, ‘Ibara no Namida.’

Total ada 19 lagu yang mereka bawakan (full setlist di sini: http://www.setlist.fm/setlist/larcenciel/2012/lapangan-d-senayan-jakarta-indonesia-4bde4312.html )

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-1

Saya sendiri mengalami guncangan emosi yang parah di lagu ‘Hitomi no Jyuunin’ dan pastinya ‘Anata’ di mana momennya sangat pas, ditemani rintikan hujan. Teman yang lain, Aris (@arisrmd) , menangis di lagu ‘Driver’s High’, sedangkan @inestjokro dan Helda (@frauassenava) sudah menangis lebih banyak.

Terlepas dari sisi emosionalnya, konser ini adalah konser terbaik yang pernah saya datangi. Lighting dan visualnya benar-benar kelas dunia. Untuk sound, walaupun agak tidak memuaskan di lagu-lagu awal, tapi setelah memasuki pertengahan set sound sangatlah menyenangkan dan tidak terlalu menyakiti telinga. Katanya soundman yang bertugas memang sengaja tidak memaksakan sound sehingga tidak menyiksa telinga dan membuat sound yang senyaman mungkin. Dari segi performance sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sungguh sangat terhibur terutama ketika hyde, ken, dan tetsuya berbicara dengan bahasa Indonesia. Benar-benar momen yang surealis.

Larc-en-ciel-live-in-jakarta-irockumentary-music-photography-3

Secara keseluruhan, konser ini adalah konser terbaik yang pernah saya datangi. Dari segi tata panggung, visual, dan sound sangatlah memuaskan.

Performance? Jangan ditana. Baru kali ini ada band yang tidak jaga image dengan sok kalem, justru kebalikannya. Sangat terlihat kalau L'Arc~en~Ciel berusaha sebaik mungkin untuk 'melayani' fansnya yang sudah menunggu cukup lama, penggunaan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi adalah salah satu contoh di mana mereka benar-benar berusaha untuk menjadi bagian dari euphoria konser ini.

Laruku_mantap

Terima kasih untuk L'Arc~en~Ciel, atas malam yang tak terlupakan. Kalimat "Mencintai L'Arc~en~Ciel adalah pilihan yang nggak akan pernah gue sesali seumur hidup" dari nona Helda mungkin sangat pas untuk menggambarkan perasaan semua yang hadir setelah konser itu. Sekali lagi terima kasih Hyde, Tetsuya, Ken, dan Yukihiro. Sampai jumpa lagi di Jakarta.