Minggu, 03 Februari 2013

Bingo! - Tribut Untuk Keluarga 48; Aitakatta!!

Bingo

Di tanggal 2 Februari 2013, di sebuah malam minggu yang syahdu, disuguhkanlah sebuah acara bertajuk Bingo! edisi pertama yang merupakan sebuah tribut bagi 48 family (AKB48 beserta sister groupsnya) di Demajors Gandaria.

Acara yang diselenggarakan oleh @MBAHJAN666KRIK (memang beginilah nama pantianya) ini adalah sebuah bentuk kecintaan para penggemar di Indonesia terhadap 48 family. Yah, mungkin juga untuk mengobati kekecewaan para penggemar yang tidak mendapatkan tiket teater JKT48 atau tidak bisa mengikuti event futsal bersama member JKT48 di hari yang sama (maaf kalau ini terkesan curhat)

Anyway, di event Bingo! ini menampilkan beberapa performer yang juga termasuk penggemar 48 Family. Mereka adalah Franzeska Edelyn, Sarah Anjani, Saka, Clover, Kultivasi, dan Saturday Night Karaoke. Mereka membawakan lagu-lagu milik 48 Family yang dicover sesuai dengan genre mereka masing-masing.

Performer pertama di Bingo! ini adalah Franzeska Edelyn. Edelyn naik panggung membawa temannya yang bernama Nia, dan kebetulan mereka berdua sebelumnya juga mengikuti audisi member JKT48 generasi 2 (!!). Edelyn dan Nia membawakan lagu-lagu 48 family dengan format minus one. Dari performance Edelyn dan Nia saja para audience sudah terlihat on fire, terbukti dari ramainya chants dan banyaknya penonton yang meneriakkan nama dua gadis ini.

Setelah itu, performer kedua adalah Clover. Selain membawakan lagu-lagu dari 48 family, Clover juga membawakan beberapa lagu karya mereka sendiri. Performance Clover terbilang menyenangkan, indie pop sederhana yang rapi. Sayangnya penonton tidak seramai sebelumnya. Mungkin karena mereka tidak familiar dengan lagu-lagu milik Clover.

Kemudian performer ketiga adalah SAKA yang datang jauh-jauh dari Jogjakarta. SAKA membawakan lagu-lagu JKT48 dengan aliran keroncong. Performance SAKA sangat menyenangkan. Perlengkapan mereka yang sederhana tidak mengurangi dahsyatnya performance mereka. Penonton pun terlihat sangat terhibur selama SAKA berada di atas panggung.

Performer keempat setelah SAKA adalah Sarah Anjani dan Jessica, lagi-lagi dua gadis manis berada di atas panggung untuk mencerahkan suasana di demajors malam itu. Ditemani gitar akustik, performance Sarah dan Jessica memainkan lagu-lagu dari 48 family tidak kalah menghibur dari SAKA yang tampil sebelum mereka.

Memang nampaknya MBAHJAN666KRIK sengaja ‘save the best for last’, menyimpan performers paling gila ketika acara mendekati akhir. Giliran KULTIVASI yang naik ke atas panggung setelah Sarah dan Jessica. KULTIVASI yang mengusung genre free-jazz (terlepas dari penampakan gitarisnya yang membuatnya nampak seperti Trey Azagthoth) Walaupun membawakan lagu-lagu sendiri, KULTIVASI tampak mendapat sambutan meriah dari penonton karena stage act yang gila. Saya sendiri sangat terhibur dengan penampilan KULTIVASI walaupun saat mendengarkan musiknya agak-agak pusing sendiri hehe.

Saturday Night Karaoke menjadi performer terakhir yang menutup acara Bingo! edisi pertama ini. Mengusung aliran pop-punk, mereka sukses memanaskan suasana Bingo! yang sudah panas sejak awal. Setelah membawakan lagu-lagu milik mereka sendiri, mereka membawakan medley lagu-lagu JKT48 yang mengundang karaoke massal (terutama di bagian Futari Nori no Jitensha yang fenomenal itu), circle pit, dan juga stage diving. Sungguh-sungguh N666ERI performance Saturday Night Karaoke di Bingo! ini.

Secara keseluruhan, event ini benar-benar menggambarkan luasnya fanbase 48 family yang ada di Indonesia ini. Tidak hanya dari performers yang mewakili genre-genre berbeda, tapi juga dari penonton yang hadir. Banyak terlihat penonton yang mengenakan t-shirt band-band favoritnya; dai band punk, metal, hingga band-band indie. Ini menggambarkan bahwa lagu-lagu 48 family dapat diterima oleh pendengar musik secara global.

Gimmick-gimmick lain seperti photo pack para performers, kuis photo pack dan lain-lainnya benar-benar well organized dan membuat acara ini semakin ramai.

Sayangnya walaupun bertajuk tribut untuk 48 family, mayoritas performer membawakan lagu-lagu versi JKT48. Mungkin karena memang lagu-lagu JKT48 lebih akrab di telinga para penonton yang ada. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan sih, mengingat bagaimana saya dan penonton lainnya terhibur di acara ini :D

Terimakasih untuk MBAHJAN666KRIK atas terciptanya event Bingo! ini. Semoga besok-besok ada Bingo! edisi berikutnya untuk menghibur para penggemar-penggemar kesepian yang sering dilanda rindu ini A great event indeed :D

Untuk bonus, berikut ini adalah video performance beberapa performers di event Bingo! ini :D

- SAKA - Temodemo no Namida

- Sarah Anjani P. dan Jessica - Inoichi no Tsukamichi

- KULTIVASI - 48 Medley

- Saturday Night Karaoke - JKT48 Medley

Rabu, 30 Januari 2013

JKT48 Theater Experience; Renai Kinshi Jourei setlist

Jkt48-opening-theater-11
 photo from JapaneseStation.com

Jadi pada tanggal 28 Januari kemarin akhirnya saya dapat kesempatan untuk menonton teater JKT48. Ini bukan pertama kalinya saya menonton teater JKT48 tapi di saat yang sama ini juga pengalaman pertama menonton teater JKT48 terutama team J. Pertama kali saya menonton JKT48 di bulan Juni 2012 di Pasaraya, di saat itu mereka belum punya teater permanen seperti sekarang di fX. Saat itu belum terbentuk team J, setlist mereka masih Pajama Drive (yang kini digunakan oleh para Kenkyuusei atau Trainee JKT48), dan posisi menonton saya saat itu terbilang cukup jauh dari panggung sehingga kurang bisa melihat dengan jelas performance mereka dan mengapresiasi lebih dari seharusnya.

Saat teater di fX pertama kali dibuka, saya juga tidak kebagian tiket dan keburu cabut untuk exchange ke Inggris juga. Jadi di saat saya di luar negeri, ada perasaan yang mengganjal karena belum nonton teater di fX ini :)

Nah, untungnya untuk kali ini saya cukup beruntung mendapatkan tiketnya. Sistem pengundian tiket yang diterapkan memang seringkali membuat kesempatan nonton teater sulit. Mengantri berjam-jam di waiting list pun belum tentu dapat, apalagi untuk teater tim J. Mengikuti saran teman, saya daftar untuk tiket FAR karena kebetulan KTP saya luar Jabodetabek (pertama kalinya mensyukuri punya KTP luar Jabodetabek, hehe). Memang nampaknya kemungkinan aplikasi tiket FAR dan juga OFC untuk menang undian tiket lebih besar dari yang General.

Setelah menukar tiket, kemudian para penonton diharuskan mengantri dipanggil bingo. Sistem bingo ini membuat kita menunggu sampai nomor bingo yang tertera di tiket kita disebutkan baru kemudian kita masuk. Tiket juga terbagi dalam dua warna, hijau dan biru, Jadi bila warna tiket dan nomor bingo dipanggil, berarti sudah dapat diperbolehkan masuk. Untungnya antrian tidak begitu rusuh seperti normalnya saat fans hendak bertemu idola.

Oke, selama kurang lebih 2 jam di teater saya sangat terhibur dengan penampilan anggota tim J hari Senin itu. Dari awal Nagai Hikari sampai terakhir Oogoe Diamond di Encore saya tidak berhenti tersenyum sama sekali. Ada beberapa member khusus yang memikat saya malam itu: Stella yang tampil memukau, she’s classy like what she puts in her twitter bio. Veranda memikat hati saya dengan goyangan badainya (memang kebetulan dia salah satu oshimen saya). Shania selalu tampil menggoda dengan berbagai ekspresinya, senyumnya, dan dancenya yang bertenaga. Untuk Shania saya beri dia poin plus karena memang dia sangat berbakat. Tariannya sungguh luwes dan bertenaga dan dia selalu mengeluarkan ekspresinya yang genit, menggoda, dan senyuman yang cerah. She’s talented in so many ways.

Beberapa member lain juga sangat menghibur. Rena yang memang selalu menggemaskan di saat MC, Achan yang selalu tersenyum dan beberapa kali menahan tawa karena digoda para penonton, Beby yang menari dengan sempurna, hingga Sonya yang di-troll member lainnya dan penonton saat sesi MC :)

Sayangnya tidak semua member tampil maksimal hari itu. Gaby sejak awal tampil tidak maksimal dan tidak bertenaga, dan semakin terlihat jelas saat unit song Kuroi Tenshi. Belakangan memang diketahui kalau dia ternyata sedang tidak fit sehingga tidak mampu melanjutkan teater hingga sesi hitouch selesai. Kemudian ada Frieska, yang memang nampaknya sudah jadi keluhan beberapa kawan saya. Ini pertama kalinya saya melihat Frieska langsung dan dia memang terlihat perform dengan setengah hati walaupun dia terlihat cukup fit dibandingkan dengan Gaby, bahkan di unit song Tsundere pun dia terlihat malas. Ekspresinya juga terlihat membosankan, senyumnya kadang terlihat terpaksa. (Untuk koko Teddy, maaf ya oshinya dikritik begini)

Dan sayangnya hari senin itu beberapa member yang saya harap untuk tampil justru tidak ada. Kinal dan Jeje yang ada di jadwal justru tidak tampil dan digantikan Sonia dan Frieska. Selain itu ada Akicha dan Harusan yang kebetulan belum kembali dari Jepang, Ghaida yang memang sedang disuspend, dan tentunya Melody yang sudah saya nanti-nanti tapi ternyata tidak bisa tampil selama beberapa minggu ke depan.

Overall, it’s a very pleasant experience. Bagi kalian yang pernah menonton JKT48 di event atau dari televisi, bila sempat tontonlah mereka di teater karena memang di teater inilah mereka mengeluarkan performance terbaik mereka. Kita juga bisa melihat sisi yang berbeda dari para member di teater, terutama saat sesi MC. Selain itu tentunya ada sesi hitouch setelah selesai teater :) Hitouch saya malam itu sangat berkesan karena saya memuji Veranda secara spontan dan membuat saya malu sendiri sampai keesokan harinya :)

Anyway, inilah pengalaman pertama saya dengan theater JKT48 Team J dengan setlist Renai Kinshi Jourei. Setelah ini saya hendak menonton setlist Pajama Drive yang dibawakan para trainee bila ada waktu nanti.

I will keep on supporting these girls for as long as I could. Thanks for the joy, JKT48 girls! :D

Minggu, 06 Januari 2013

Punk Rock Jesus: When Religion Meets Punk

Prj_1
Agama adalah satu isu yang sensitif dalam hubungan antar manusia. Tidak terbayangkan ada berapa konflik yang sudah pernah tercipta dan bahkan masih berlangsung di dunia ini.

Ada beberapa agama yang sangat sensitif ketika tokoh penting dalam agamanya diangkat ke dalam karya seni modern (e.g. Umat Islam yang marah ketika Nabi Muhammad SAW dijadikan karikatur di Denmark). Memang sulit untuk mengekspresikan diri ketika membawa nama agama atau figur penting dalam suatu agama. Tapi tidak untuk Sean Murphy, kreator Punk Rock Jesus.

Punk Rock Jesus karya Sean Murphy ini adalah sebuah limited series yang diterbitkan Vertigo Comics (imprint dari DC Comics) yang mengambil berbagai macam tema dan isu yang sensitif mulai dari agama, sejarah, dan menggabungkannya dengan elemen musik yang tentu saja adalah punk.

Punk Rock Jesus mengambil cerita dari dua sudut pandang yang berbeda. Yang pertama adalah dari Thomas Mckael, mantan anggota IRA (Irish Republican Army) yang kini menjadi kepala keamanan dari sebuah proyek bernama J2. Yang kedua adalah J2 ini sendiri, sebuah proyek mahabesar yang hendak menghidupkan kembali Jesus dengan mengkloning DNAnya dan menyuntikkannya ke rahim seorang perawan, Gwen Fairling, untuk memberi citra bahwa acara ini adalah sebuah 'Second Coming' dari Jesus Christ.

Cerita yang dibangun dari Thomas Mckael dengan flashback ke masa kecilnya dan masa-masa ketika ia dilatih dan menjadi anggota IRA dan masa sekarang ketika J2 sebagai sebuah proyek yang kontroversial menghadirkan kompleksitas tersendiri. Sean Murphy memberikan porsi seimbang kepada semua karakter yang ada dalam cerita ini sehingga mereka semua berkembang dan saling berhadapan dengan konflik masing-masing. Berbagai referensi sejarah dalam konflik IRA dan konflik antara Katolik dan Protestan digunakan dengan baik utnuk membangun cerita. 

Storytelling dari Murphy juga mudah dicerna. Murphy menceritakan semuanya dengan lugas, tidak menggunakan narasi yang terkesan bertele-tele. Semuanya dibangun cukup dengan dialog antar karakter. Gaya seperti ini terkesan seperti storytelling manga; simple namun tetap menghadirkan kompleksitas tersendiri di balik ceritanya.

Sean Murphy juga menangani art dari buku ini dengan sempurna. Artnya terkesan dark, grim, dan gritty, sesuai dengan cerita dari buku ini. Murphy juga membiarkan buku ini berwarna hitam-putih, mengakomodasi tone dari cerita buku ini juga.

Secara keseluruhan, buku ini adalah salah satu komik terbaik yang pernah saya baca. Cerdas, mind-provoking, dan juga sedikit menyedihkan. Cerita yang kompleks dihadirkan dengan gaya penceritaan yang sederhana dan mudah dipahami, art yang over the top; sungguh sebuah komik yang terkeren yang pernah ada.

Definitely recommended. So grab it and have fun reading it.

Jumat, 28 Desember 2012

My List: 30 Best Albums of 2012

Right, so previously I have published a list of the best songs of 2012.

Now, continuing that list, this list will be about the top 30 albums of 2012 for me.

Compared to last year’s best album list I’m gathering albums from different genres (and being less pretentious) which encompasses 2012 in music for me personally.

Differing from what I did last year, which was not in particular order, this list will be started with the top 10 albums then I will start by putting things not in a particular order.

So, here’s the list:

1. Deftones – Koi no Yokan

[[posterous-content:pid___0]]

This album definitely tops my list. Incredibly beautiful yet it still rocks my ear. I don’t think I can describe this album in a few words, so you can read my review on this album here

2. Tame Impala – Lonerism

[[posterous-content:pid___1]]

Evolving greatly from their debut album, Innerspeaker, Lonerism takes us into a whole new level of Kevin Parker’s ambitious songwriting. More melodious than their previous album and the psychedelic synth-textured songs ransacked the past of psychedelica movement and bringing it into the future.

3. Frank Ocean – Channel Orange
[[posterous-content:pid___2]]
Frank Ocean is definitely a new rising star. His previous so-called mixtape Nostalgia, Ultra was a wonderful r&b album, with songs such as Swim Good and Novacane. In Channel Orange, he’s taking Nostalgia, Ultra into a brand new level. Fusing r&b with elements of Soul, Jazz, and Funk, with wonderfully poignant and also ambiguous lyrics, and producing a wonderful experimental songs such as Pyramids or Bad Religion, this is the ultimate r&b album of this year.

4. The xx – Coexist

[[posterous-content:pid___3]]

Sophomore album, more often than not, can be an obstacle for various bands with a wonderful debut album. However, The xx proves that they can handle it with such ease. Stripping down their sounds further from their previous self-titled debut album, Coexist is a beautiful album with minimalistic sounds. I did a review on this album here

5. Passion Pit – Gossamer

[[posterous-content:pid___4]]

A wonderful upbeat synthpop album. Songs like Take a Walk and Carried Away gets me hyperactive, while Constant Conversations and Mirrored Sea brings me down to my knees.

6. Jack White – Blunderbuss

[[posterous-content:pid___5]]

Jack White is a genius, we all know that. This is his first solo album, and we can see him running loose without constraints here. Blurting out wonderful bluesy riffs, with wonderful composition and writing. This album deserves one of the top spot for the best album of this year.

 7. Alabama Shakes – Boys and Girls
[[posterous-content:pid___6]]

One of the best debut album of 2012. Composed with blues sounds, influenced greatly by southern style rock and Americana with soulful vocals from Brittany Howard, this album has given them the attention they deserved and also give them three grammy nominations.

8. Japandroids – Celebration Rock

[[posterous-content:pid___7]]

Despite this album only contains 8 tracks, doesn’t mean it lacks the kick needed for them to be among the best albums of 2012. Blasting with noisy punk riffs with dynamic drum beats, singer-guitarist Brian King and singer-drummer David Prowse take the combinations of guitar and drums to transcend the boundaries of musical instruments. Sometimes to make a great album, you’d only need a guitar and a set of drums.

9. Converge – All We Love We leave Behind

[[posterous-content:pid___8]]

This album is even more intense than their previous album, Axe to Fall. Maintaining hyperspeed drums and guitar riffs and technical playing, this is one of the heaviest albums this year

10. Beach House – Bloom

[[posterous-content:pid___9]]

Teen Dream by Beach House was a magnificent record. But, who would’ve thought that Bloom could top its predecessor? They come with, as RollingStone puts it, ‘even prettier vision of synth-y, Eighties-steeped romanticism.’ They made even more distinct sounds, accompanied by Victoria Legrand’s hauntingly smooth vocals. Well, no wonder this album managed to break through the top 10 of Billboard charts.

For album no. 11-30, I won’t put them in numerical order as I’ve mentioned above.

So here it is, my best albums no.11 – 30:

The Cribs – In the Belly of the Brazen Bull

[[posterous-content:pid___10]]

Although Johnny Marr is no longer with them, The Cribs have finally found their sound back in this album. I personally think this album bested their previous attempt, Ignore the Ignorant, and only fell behind Men’s Needs, Women’s Needs, Whatever

Kendrick Lamar – good kid, m.A.A.d City

[[posterous-content:pid___11]]

I don’t listen to a lot of rap or hip-hop, but this album is definitely the best rap album and also the most ambitious one this year. Kendrick Lamar created a narrative album, portraying his life growing up in Compton, California and Lamar himself referred to this album as a short film.

Grimes – Visions

[[posterous-content:pid___12]]

Claire Boucher is this year’s electronic and synth-pop princess. Taking electronic and synth with r&b and slightly dream pop, her music is definitely worth to listen and dance to.

Crystal Castles – (III)

[[posterous-content:pid___13]]

The duo of Alice Glass and Ethan Kath are getting more dark in their third album. Compared to their previous albums where Glass’s singing doesn’t really matter, here it does matter. As Pitchfork puts it: “(III) is filled with meditations on the exploitation of women and children and religious oppression to match those asphyxiated vocals”

Baroness – Yellow & Green

[[posterous-content:pid___14]]

This album is even less ‘metal’ than their previous album, Blue Record. However, their approach in songwriting and composing is more mature than before.

Alt-J – An Awesome Wave

[[posterous-content:pid___15]]

Another magnificent debut album in 2012, they even managed to grab a Mercury Prize in the UK. A wonderfully crafted album

Grizzly Bear – Shields

[[posterous-content:pid___16]]

One of the most sophisticated indie-rock albums of 2012. As RollingStone puts it: “melding idiosyncratic approaches to texture and tune into a subtly mind-blowing whole”

Best Coast – The Only Place

[[posterous-content:pid___17]]

Bethany Consentino is still obsessed with California and surf-rock and sixties pop sounds in this album. What I love from this album is that Bethany can let her true vocals out by freeing this album from the lo-fi sounds from their previous album.

Chairlift – Something

[[posterous-content:pid___18]]

“Something is a record with a new-age brain and a thumping 80s pop heart, pulling equally from the playbooks of Suzanne Ciani and Duran Duran” said Pitchfork. An easy listening album with so many tracks that are memorable (e.g. I Belong In Your Arms, Met Before, Frigid Spring)

Enter Shikari – A Flash Flood of Colour

[[posterous-content:pid___19]]

Post-hardcore, combined with drums and bass and dubstep. With lyrics that are political and touching on sensitive issues, Enter Shikari is growing into a massive powerhouse in UK’s music scene. This album even bested Muse’s dubstep attempt in The 2nd Law

Twin Shadow – Confess

[[posterous-content:pid___20]]

While this album is all about the present, said George Lewis Jr. aka Twin Shadow, the music is still rather obsessed with 80s. Not a bad idea though, because this album combines both elements of the past and the present perfectly.

Sleigh Bells – Reign of Terror

[[posterous-content:pid___21]]

Alexis Krauss and Derek Miller is still as explosive as they did before although they toned it down a little bit. This is still a fun album and  while it may tone down a little bit, Alexis Krauss’ vocals can be heard clearly than before.

Hot Chip – In Our Heads

[[posterous-content:pid___22]]

The dance floor anthem of this year. Hot Chip is growing a lot in terms of songwriting, but still maintains their eclecticism and fun while doing it.

How to Dress Well – Total Loss

[[posterous-content:pid___23]]

An experimental r&b album, with minimalistic and poignant sounds. This album is great at amplifying emotional breakdowns.

Meshuggah – Koloss

[[posterous-content:pid___24]]

Koloss takes Meshuggah into a whole new level. Their performance in this album is more technical and more experimental than their previous efforts.

Motion City Soundtrack – Go

[[posterous-content:pid___25]]

This record sounds more personal for Justin Pierre and co. Pop-punk have never been both energetic and poignant at the same time.

The Walkmen – Heaven

[[posterous-content:pid___26]]

Hamilton Leithauser and co. are getting obsessed with retro sounds in this album.  Heaven shines on with these classic sounds, while at the same time they still remember who they are by fusing these classic pre-rock n’ roll sounds with their own surf rock sounds (e.g. title track Heaven)

The Shins – Port of Morrow

[[posterous-content:pid___27]]

Just like their first single of this album, Simple Song, this is a simple album yet mesmerizing effort from James Mercer with songs such as It’s Only Life or For a Fool that has deep meaningful lyrics.

Pallbearer – Sorrow and Extinction

[[posterous-content:pid___28]]

Probably not the best doom metal out there, but this album deserves to be in this list. A pretty straightforward album, with only 5 songs, yet they managed to maximize each songs’ potential by conveying doom metal classics with gothic tones in them.

Parkway Drive – Atlas

[[posterous-content:pid___29]]

Metalcore has not been this exciting since two years ago, when Parkway Drive released this album’s predecessor. They haven’t slowed down in a bit, and they become even more brutal. Definitely among the best metalcore albums in history and also helps to define metalcore further.

 

So that completes my 30 best album of this year. I can’t wait to see what 2013 will bring, whether there will be any more exciting albums or not. Hopefully there will be more awesome albums than this year.

Minggu, 23 Desember 2012

My List: 50 Best Songs of 2012

Tahun 2012 sudah hampir berakhir.

Menilik ke belakan, banyak sekali musik yang dirilis di tahun 2012 ini. Some are good and some are bad.

Seperti tradisi, daftar lagu 50 lagu terbaik 2012 ini melanjutkan daftar tahun lalu 

Without further ado, here's the list:

 

1. Passion Pit - Constant Conversation

2. Of Monsters and Men - Little Talks

3. The xx - Angels

4. Twin Shadows - Five Seconds

5. The Shins - Simple Song

6. Deftones - Leathers 

7. Deftones - Entombed

8. Jack White - Sixteen Saltines

9. Arctic Monkeys - R U Mine?

10. Tame Impala - Elephant

11. Tame Impala - Apocalypse Dreams

12. The Vaccines - Teenage Icon

13. Crystal Castles - Wrath of God

14. Frank Ocean - Pyramids

15. Frank Ocean - Thinkin Bout You

16. The Killers - Runaways

17. Sleigh Bells - Comeback Kid

18. The Walkmen - We Can't Be Beat

19. Alabama Shakes - Hold On

 20. The Lumineers - Ho Hey

21. Japandroids - The House That Heaven Built

22. Hot Chip - Night and Day

23. PSY - Gangnam Style

24. Chairlift - I Belong In Your Arms

25. The Cribs - Come On, Be A No One

26. Jake Bugg - Two Fingers

27. Last Dinosaurs - Andy

28. fun. - We Are Young (feat. Janelle Monae)

29. Miike Snow - Paddling Out

30. Grimes - Genesis

31. Motion City Soundtrack - Timelines

32. Converge - Sadness Comes Home

33. Maroon 5 - Payphone (feat. Wiz Khalifa)

34. Kendrick Lamar - Poetic Justice (feat. Drake)

35. Grizzly Bear - Yet Again

36. Beach House - Myth

37. Green Day - Stray Heart

38. John Mayer - Shadow Days

39. Ellie Goulding - Anything Could Happen

40. Benjamin Gibbard - Teardrop Windows

41. Best Coast - The Only Place

42. Fiona Apple - Every Single Night

43. Alt-J - Breezeblocks

44. How To Dress Well - & It Was U

45. Parkway Drive - Old Ghosts/New Regrets

46. Lamb of God - Ghost Walking

47. Miguel - Adorn

48. Ladyhawke - Black, White & Blue

49. Django Django - Default

50. Grimes - Oblivion

 

p.s. the list is in a random order. I have no intention in putting in a list of from the best to the least best.

p.s.s. because posterous is such a dick, the post that contains the videos of each song is here 

 

Rabu, 21 November 2012

Deftones - Koi no Yokan [review]

Deftones-koi-no-yokan
Cukup ironis bila fakta bahwa Deftones mampu kembali ke jalan yang benar setelah bassist mereka, Chi Cheng, terbaring tak sadarkan diri dalam keadaan koma setelah kecelakaan mobil pada tahun 2008. Kondisi ini memaksa mereka menyimpan materi 'Eros' dan menunda perilisannya.

Tetapi, bagaimanapun juga Deftones setelah era White Pony (2000) seakan berada dalam kelimbungan, bingung hendak menuju kemana setelah album yang menjadi cult classic itu. Album self-titled, Deftones (2003), dan kelanjutannya Saturday Night Wrist (2006) tidak mampu memenuhi ekspektasi pendengarnya. Sukses memang membangun ekspektasi. Itulah yang terjadi ketika album selanjutnya, Diamond Eyes (2010), tidak disangka-sangka mampu meraih sukses secara komersial dan juga menuai pujian dari berbagai media.

Pertanyaan yang muncul setelah kesuksesan monumental Diamond Eyes adalah: Bagaimana selanjutnya? Ekspektasi berharap bahwa album kelanjutan dari Diamond Eyes, Koi no Yokan (2012), akan mampu melebihi atau setidaknya menandingi kesuksesan Deftones.

Well, untuk kali ini ekspektasi sesuai dengan kenyataan. Koi no Yokan adalah evolusi yang indah dari Diamond Eyes.

Koi no Yokan dibuka dengan 'Swerve City' yang langsung menghentak dengan riff-riff maut dari Stephen Carpenter, kemudian dilanjutkan dengan chorus yang terdengar megah. Salah satu hal yang saya sadari dari Koi no Yokan adalah bahwa Chino Moreno tidak berteriak sesering yang ia lakukan di Diamond Eyes. Tapi begitu ia berteriak, ia melakukannya dengan sempurna, seperti yang dicontohkan di single pertama album ini 'Leathers'

Album ini sungguh meledak-meledak, terutama karena riff dari Stephen Carpenter dengan setia menemani dari satu lagu ke lagu lainnya. Saya sendiri berharap ada lagu-lagu ballad nan indah seperti 'Beauty School' dan 'Sextape' yang termasuk lagu terbaik dalam repertoire Deftones. Di album ini muncul lagu seperti itu walaupun tidak sama persis, yaitu 'Entombed'. Frank Delgado menjadi bintang di lagu ini. Dengan sentuhan-sentuhannya pada keyboards dan synths yang halus, memberi latar belakang sound yang megah dengan Stephen Carpenter dan drummer Abe Cunningham menjadi aktor di depannya.

Lagu-lagu lain di album ini pun tak kalah indahnya. 'Tempest', 'Gauze', dan juga 'Rosemary' sebuah lagu epik yang hampir menyentuh hitungan tujuh menit.

Setelah menyelesaikan album ini untuk kesekian kalinya, album ini sungguh mampu untuk masuk ke dalam jajaran album terbaik tahun 2012 ini dan juga masuk ke dalam album terbaik yang pernah dirilis Deftones. Album ini bagi saya pribadi mendapat rating 9/10 karena album ini sangat memuaskan. Mungkin ke depannya Koi no Yokan bisa diingat sebagai sebuah album klasik, sama seperti status White Pony saat ini.

Jumat, 16 November 2012

Fantastic Four #1 [review]

Fantasticfour_1_cover

Sama seperti beberapa judul dari Marvel lainnya, Fantastic Four juga termasuk dalam relaunch yang dilakukan Marvel dalam relaunch Marvel NOW! ini. Sebelum Marvel NOW! , Fantastic Four dikerjakan oleh Jonathan Hickman dan berbagai artis yang menemaninya; Ryan Stegman menjadi artist di issue terakhir Hickman. Kali ini Matt Fraction mengambil alih Fantastic Four bersama dengan Mark Bagley yang menjadi artisnya. Matt Fraction adalah salah satu writer terbaik Marvel saat ini, karyanya di antara lain adalah Invincible Iron Man, The Mighty Thor, dan salah satu judul Marvel terbaik saat ini yaitu Hawkeye. Karena inilah saya punya ekspektasi yang cukup tinggi kepada Fantastic Four karya Fraction karena Fantastic Four dari Hickman sebelumnya kurang memuaskan bagi selera pribadi.

Fantastic Four yang baru ini bercerita bahwa Fantastic Four; Mr. Fantastic, Invisible Woman, Human Torch, dan The Thing; bersama Franklin Richards dan Valeria Richards yang merupakan anak dari Mr. Fantastic dan Invisible Woman, akan mengambil libur selama setahun dan berpetualang ke luar angkasa.

Plot terdengar cukup simple. Tapi mengingat apa yang melatarbelakangi ide Mr. Fantastic untuk melakukan perjalanan ini, maka bisa terlihat bahwa cerita akan semakin kompleks ke depannya. Fraction meringkas semuanya dengan baik dalam buku ini. Mulai dari awal hingga ke konklusinya semua dikerjakan dengan baik, walaupun mungkin tidak sedahsyat karya Fraction sebelumnya. Balutan aksi dan science-fiction semuanya tertuang dalam Fantastic Four ini.

Artwork Mark Bagley cukup sesuai untuk para karakter dari Fantastic Four. Saya pribadi suka dengan sentuhannya pada The Thing yang membuatnya terkesan lebih tegap dan garang.

Fantastic Four dari Marvel NOW! ini adalah salah satu judul favorit saya dari Marvel NOW! sejauh ini. Sekali lagi, Fraction menunjukkan bahwa ia adalah salah satu aset dari Marvel. Menarik untuk disimak bagaimana Fraction juga mengerjakan komik anggota Fantastic Four lainnya yaitu FF (Future Foundation) yang dikerjakan bersama Michael Allred. For now, keep it up Matt!

Kamis, 15 November 2012

All New X-Men #1 [review]

All-new-x-men-1
Sejak relaunch dari Marvel, Marvel NOW! , diumumkan pada bulan Juli lalu, buku All New X-Men adalah salah satu buku yang sangat saya tunggu, terutama karena saya adalah penggemar X-Men sejak kecil.

Sama seperti buku-buku relaunch Marvel NOW! lainnya, All New X-Men mengambil tempat setelah event Avengers Vs. X-Men dan mini-seri AvX Consequences.

All New X-Men dimulai dengan Beast yang menderita karena mutasi yang ia alami. Kemudian cerita beralih ke belahan dunia lain, di mana seorang gadis bernama Eva mulai mengaktifkan kekuatan mutannya. Pasca Avengers Vs. X-Men, mutan mulai muncul lagi di berbagai belahan dunia. Cyclops yang menamakan dirinya sebagai pemimpin revolusi mutan, bersama dengan Magneto, Emma Frost, dan Magik, mulai mendekati beberapa mutan baru ini. Di saat yang sama, X-Men yang tergabung di sekolah Jean Grey School for Higher Learning milik Wolverine seperti Beast, Kitty Pryde, Iceman, dan Storm mulai kecewa dengan Cyclops dan merasa bahwa tindakan Cyclops justru akan meruntuhkan reputasi sekolah yang telah mereka bangun dengan susah payah. Dari sinilah ide untuk membawa lima anggota X-Men yang asli dari masa lalu ke masa sekarang muncul.

Bendis memulai masa baktinya di buku X-Men dengan sangat baik. Walaupun Bendis adalah salah satu writer utama Marvel, serial Avengers karyanya sebelum ini cenderung membosankan. Untungnya Bendis memulai masanya di X-Men di All New X-Men ini dengan baik. Bendis melanjutkan apa yang sudah dikerjakan Gillen di Uncanny X-Men sebelumnya dan menggabungkannya dengan Wolverine & The X-Men karya Jason Aaron yang masih berlangsung. Sangat menikmati bagaimana Bendis menceritakan dan menggabungkan dua faksi X-Men yang berbeda dalam satu buku dan menceritakan sudut pandang keduanya yang berlawanan. Sedangkan ide untuk membawa lima X-Men dari masa lalu sebenarnya agak mengecewakan pada awalnya, seakan-akan Marvel kekurangan ide, tapi nampaknya Bendis mempunyai banyak ide untuk X-Men ke depannya dengan membawa lima X-Men ini dari masa lalu. Saya pun sekarang menjadi tak sabar dan ingin melihat perubahan apa yang akan dibawa lima X-Men awal ini ke X-Men di masa sekarang.

Untuk bagian art, saya menyukai apa yang Stuart Immonen kerjakan untuk beberapa desain karakter di buku ini, terutama Beast dan Iceman yang tampak lebih ganas dari sebelumnya. Selain itu beberapa scene di mana Cyclops dan kawan-kawannya mengamul sangat definitif dan dikerjakan dengan apik.

Ini adalah sebuah awal yang menyenangkan untuk era baru dari X-Men setelah berbagai macam kejadian yang telah menimpa kaum mutan dan X-Men secara keseluruhan. Bendis pun akan menulis seri X-Men lainnya yaitu Uncanny X-Men bersama Chris Bachalo. Akan sangat menarik untuk melihat bagaiman dua seri ini saling mempengaruhi satu sama lain. For now, good work Bendis!

Rabu, 03 Oktober 2012

Looper [review]

Looper
Sebuah film science-fiction dengan tema time travel sudah sangat jarang terlihat akhir-akhir ini. Tema time travel sendiri adalah sebuah tema yang cukup sulit dan dapat membingungkan para penonton dengan berbagai macam paradoks dan kemungkinan yang ada dalam sebuah space-time continuum.

Akan tetapi, di dalam Looper, Rian Johnson dengan cerdas memanfaatkan semua kesulitan itu dan mengemasnya menjadi sebuah film yang tak hanya memancing daya berpikir penontonnya, tapi juga membuat sebuah film yang menyenangkan secara keseluruhan.

Looper sendiri berlatar belakang dunia di tahun 2044, menceritakan tentang Joe (Joseph Gordon-Levitt) seorang eksekutor yang disebut 'Looper' yang bertugas untuk mengeksekusi targetnya yang dikirim dari 30 tahun di masa depan di mana mesin waktu untuk menjelajahi waktu telah diciptakan dan dikendalikan oleh organisasi kriminal. Ketika organisasi ingin menghentikan kontrak kerja para 'Looper' mereka mengirimkan diri para 'Looper' dari masa depan untuk dieksekusi oleh sang 'Looper' itu sendiri atau yang disebut sebagai "closing the loop." Permasalahan muncul ketika Joe dari masa depan muncul di depan Joe di masa kini. 'Old Joe' (Bruce Willis) dengan sigap mampu menghindari eksekusi dari Joe muda dan melarikan diri. Kemudian kedua Joe menjadi buronan polisi dan organisasi kriminal tersebut sementara keduanya juga disibukkan oleh misi pribadi mereka masing-masing untuk menyelamatkan kehidupan dan masa depan mereka.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, film dengan tema time travel memang sulit dieksekusi dan membuat penonton berpikir ketika menontonnya. Untungnya Rian Johnson dengan cerdasnya menulis skrip yang membuat tema ini terasa lebih ringan dan penonton tidak perlu untuk berpikir terlalu keras untuk dapat menikmatinya. Selain itu skrip dari Johnson juga sangat cerdas dari segi pesan moral dan berbagai pertanyaan tentang filosofi hidup yang menempel di kepala setelah selesai menonton film ini.

Pujian juga patut diberikan kepada Joseph Gordon-Levitt, lelaki pekerja keras Hollywood tahun 2012, yang bisa dibilang mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya di film ini. Di film ini Levitt memang didandani dan diberi berbagai macam sentuhan efek yang membuatnya terlihat seperti Bruce Willis muda dari segi muka. Tapi, dari segi tingkah laku dan gerakannya di film ini, semuanya sempurna dan sangat mirip dengan Bruce Willis.

Walaupun bukan bintang utama di film ini, Emily Blunt juga membuktikan bahwa dia pantas untuk peran utama karena dia mampu mencuri perhatian di saat kamera terfokus padanya. Tokoh yang diperankan Blunt di film ini sekilas terlihat mirip dengan Sarah Connor dari serial Terminator, dan Blunt mampu memerankannya dengan sangat baik.

Secara keseluruhan, Looper adalah film yang menakjubkan, ditulis dan disutradarai dengan sempurna oleh Rian Johnson. Film science-fiction terbaik untuk tahun ini, atau minimal salah satu dari film terbaik yang dirilis tahun ini. Tontonlah film ini minimal sekali, atau lebih baik lagi dua kali. It is that good.

Rabu, 12 September 2012

The xx - Coexist [review]

Coexist

Setelah album debut yang menjanjikan, album kedua seringkali menjadi batu sandungan. Ini adalah kasus yang sering ditemukan di antara band-band atau penyanyi masa kini.

Album self-titled debut the xx yang dirilis pada tahun 2009 adalah sebuah album yang meredefinisi sebuah genre dengan melakukan dekonstruksi total. The xx menyajikan indie pop manis dengan sebuah konsep yang sangat minimalis. Petikan gitar yang gentle, vokal halus bagai bisikan dari Romy Madley Croft dan Oliver Sim, dan beat-beat dan produksi khas Jamie Smith.

Seperti kata Pitchfork, pilihan untuk album kedua hanya ada: melangkah ke teritori yang baru atau menyempurnakan apa yang sudah ada. The xx memilih jalur yang kedua. Walaupun terdengar tidak mungkin untuk menelanjangi sebuah konsep musik yang sudah sangat minimalis, tapi itulah yang mereka lakukan di album ini. Sound gitar yang bagai sebuah garis yang pudar, bisikan halus dari kedua vokalis, dan Jamie semakin meminimalisir beat khas miliknya dan lebih banyak menciptakan sound production yang menghantui sepanjang album.

Ambil saja 'Angels' sebagai contoh. Lead single dari album ini mencontohkan bagaimana komposisi yang minimalis mampu menyentuh lubuk hati terdalam pendengarnya. Ditambah lagi dengan lirik yang sendu "Being in love with you as I am." yang bahkan mampu meluluhkan hati lelaki termaskulin. Mungkin bagi mereka yang berharap bahwa the xx, terutama Jamie, akan lebih mengeksplorasi sound baru, akan sangat kecewa dengan album ini. Album ini sepenuhnya berjalan lambat dari satu lagu ke lagu berikutnya secara natural, musiknya sangat terfokus dan terikat, gelap namun indah.

Tidak ada alasan untuk membenci the xx atas pilihan jalan yang mereka pilih, karena secara keseluruhan mereka telah berkembang lebih baik lagi di album ini.

Saya sangat menikmati album 'Coexist' ini, dan saya menumukan diri saya ditarik untuk mendengarkan album ini lagi dan lagi. Silakan nikmati album ini dan biarkan the xx membius telinga dan pikiran anda.

The xx - Coexist [review]

[[posterous-content:pid___0]] 0 0 1 54 308 Monash University 2 1 361 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Setelah album debut yang menjanjikan, album kedua seringkali menjadi batu sandungan. Ini adalah kasus yang sering ditemukan di antara band-band atau penyanyi masa kini.

Album self-titled debut the xx yang dirilis pada tahun 2009 adalah sebuah album yang meredefinisi sebuah genre dengan melakukan dekonstruksi total. The xx menyajikan indie pop manis dengan sebuah konsep yang sangat minimalis. Petikan gitar yang gentle, vokal halus bagai bisikan dari Romy Madley Croft dan Oliver Sim, dan beat-beat dan produksi khas Jamie Smith.

Seperti kata Pitchfork, pilihan untuk album kedua hanya ada: melangkah ke teritori yang baru atau menyempurnakan apa yang sudah ada. The xx memilih jalur yang kedua. Walaupun terdengar tidak mungkin untuk menelanjangi sebuah konsep musik yang sudah sangat minimalis, tapi itulah yang mereka lakukan di album ini. Sound gitar yang bagai sebuah garis yang pudar, bisikan halus dari kedua vokalis, dan Jamie semakin meminimalisir beat khas miliknya dan lebih banyak menciptakan sound production yang menghantui sepanjang album.

Ambil saja 'Angels' sebagai contoh. Lead single dari album ini mencontohkan bagaimana komposisi yang minimalis mampu menyentuh lubuk hati terdalam pendengarnya. Ditambah lagi dengan lirik yang sendu "Being in love with you as I am." yang bahkan mampu meluluhkan hati lelaki termaskulin. Mungkin bagi mereka yang berharap bahwa the xx, terutama Jamie, akan lebih mengeksplorasi sound baru, akan sangat kecewa dengan album ini. Album ini sepenuhnya berjalan lambat dari satu lagu ke lagu berikutnya secara natural, musiknya sangat terfokus dan terikat, gelap namun indah.

Tidak ada alasan untuk membenci the xx atas pilihan jalan yang mereka pilih, karena secara keseluruhan mereka telah berkembang lebih baik lagi di album ini.

Saya sangat menikmati album 'Coexist' ini, dan saya menumukan diri saya ditarik untuk mendengarkan album ini lagi dan lagi. Silakan nikmati album ini dan biarkan the xx membius telinga dan pikiran anda.

 

Senin, 27 Agustus 2012

The Expendables 2 [review]

The-expendables-2-poster2
Era action heroes movie memang sudah lewat sejak lama, tapi nampaknya itu tidak menyurutkan aksi para aktor-aktor action heroes kawakan ini untuk kembali berlaga di layar lebar untuk membuktikan bahwa mereka masih belum habis.

Ketika film pertama The Expendables dirilis tahun 2010, seakan memberi ekspektasi sebuah revival dari film-film bergenre action hero. Walaupun film tersebut cukup jatuh dari ekspektasi yang dibangun dari ensemble castnya, tapi The Expendables cukup memuaskan kerinduan akan masa-masa film action heroes yang dulu sangat terkenal.

Kemudian di tahun 2012 ini dirilislah sekuelnya, The Expendables 2. Dengan cast yang lebih banyak dan lebih dahsyat dari sebelumnya, film ini menjanjikan lebih banyak aksi dibandingkan pendahulunya.

The Expendables 2 ini masih mengisahkan para mercenaries yang dipimpin oleh Barney Ross (Sylvester Stallone) dalam menjalankan misi-misi berbahaya. Tim ini terdiri atas Lee Christmas (Jason Statham), Yin Yang (Jet Li), Hale Caesar (Terry Crews), Toll Road (Randy Couture), Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), dan anggota terbaru Billy the Kid (Liam Hemsworth).

Ross kemudian terpaksa menerima misi yang diberikan oleh Mr. Church (Bruce Willis) untuk mengambil kembali sebuah barang dari bangkai pesawat yang terjatuh di Albania, ditemani oleh seorang ahli tehnik yang dikirim oleh Church, yaitu Maggie Chan (Yu Nan). Dalam misi inilah Ross dan kawan-kawan bertemu Vilain (Jean Claude Van-Damme) yang juga berusaha mengambil barang dari pesawat tersebut. Kemudian, misi pengambilan baran ini pun berubah menjadi misi balas dendam ketika ada salah satu anggota tim tewas dibunuh oleh VIlain.

Dibandingkan pendahulunya, The Expendables 2 menawarkan aksi yang lebih heboh. Tembak-tembakan, ledakan, hingga hand-to-hand combat semua lengkap di film ini, bahkan dalam skala yang lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya.

Dari segi script, film ini jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Terlihat sekali bagaimana Stallone belajar dari kesalahannya terdahulu dan membuat sebuat sebuah film yang tak hanya bisa dinikmati dari aksinya saja, namun juga dari segi cerita. Jokes dan punchline yang menggunakan referensi film yang dahulu diperankan para aktor yang bermain di film ini juga sangat dahsyat, yang paling jelas tentu saja jokes ketika Arnold Schwarzenegger dan Chuck Norris muncul. Sangat menghibur.

Overall, film ini sangat saya rekomendasikan. Sangat menghibur dari segala aspek.

Rabu, 08 Agustus 2012

Soundwave Festival 2013

Soundwave_2013
Soundwave Festival adalah salah satu festival terbaik yang dimiliki Australia. Pengalaman saya menyambangi festival ini pada tahun 2012 ini malah membuat saya yakin ini adalah festival terbaik di Australia; Crowd yang dahsyat, panggung yang tersusun rapi, dan berbagai macam pengalaman menyenangkan lainnya. Lineup yang dibawa di Soundwave Festival 2012 juga sangat dahsyat karena banyak performers yang merupakan band favorit, dan cukup pedih mengingat ada banyak band favorit yang harus dilewatkan demi mengejar band lain karena bentrokan jadwal.

Untuk tahun 2013, Soundwave kembali dengan lineup yang bisa dibilang salah satu lineup terbaik dalam sejarah mereka. Metallica sebagai headliner, bersama Linkin Park, blink-182, Paramore, Anthrax dan banyak lagi, yang mengisi daftar lineup Soundwave tahun 2013. Memang tidak seberat lineup tahun lalu yang bisa dibilang terbaik dalam sejarah Soundwave, tapi dijamin Soundwave 2013 akan memberi excitement tersendiri, apalagi dengan adanya Metallica dan blink-182 dengan formasi lengkap.

Akan menarik melihat bagaimana festival ini tahun depan, mengingat musim panas di Australia adalah musim yang dipenuhi festival musik lain yang tak kalah keren. Kalau sempat mampir ke Australia pada musim panas, jangan lupa untuk mampir ke festival ini. So, see you soon in the mosh pit?

Senin, 30 Juli 2012

Seremedy; Bukti Globalisasi Visual-kei

Seremedy
Visual-kei, sebuah kata yang cukup awam bagi mereka yang mendalami pop culture Jepang (termasuk saya sendiri), namun mungkin masih asing bagi orang awam.

Visual-kei adalah sebuah style di antara musisi Jepang yang memiliki karakteristik unik di mana para musisi ini mengenakan make-up hingga menggunakan kostum yang flamboyan. Tapi seiring waktu berjalan, visual-kei tidak sekedar mendefinisikan 'appearances', namun juga musik yang dimainkan band-band yang tergolong band visual-kei ini.

Band-band visual-kei memiliki banyak penggemar di seluruh dunia, seiring dengan menyebarnya fanatisme pop culture Jepang. Tak heran kalau ada band-band visual-kei yang berkembang di setiap negara, walaupun konteksnya hanya di scene lokal.

Mungkin ketika saya pertama kali menemukan band bernama 'Seremedy' ini seharusnya saya tak terkejut mengingat visual-kei sudah mendunia. Siapakah Seremedy ini? Seremedy adalah sebuah band visual-kei yang berasal dari Swedia yang terbentuk sejak tahun 2010. Band ini beranggotakan SEIKE (vocal), YOHIO (guitar), RAY (guitar), JENZiiH (bass), dan LINDER (drums). Walaupun masih terbilang baru, Seremedy sudah memiliki pengalaman cukup di dunia internasional, bahkan sudah memiliki fanbase tersendiri di Jepang (yang notabene memang negara asal budaya visual-kei)

Welcome_to_out_madness
Ketika pertama kali menemukan band ini jujur saya terkejut karena ada band visual-kei dari negara selain Jepang yang berhasil menembus industri musik internasional. Seremedy tergabung dalam Ninetone Records dan Universal Music. Pencapaian yang cukup hebat mengingat mereka belum lama terbentuk. Dan di bawah label ini pula mereka merilis album debut mereka 'Welcome to Our Madness' pada tanggal 25 Juli lalu dan dirilis baik di Jepang maupun Swedia.

Secara make-up, kostum, dan sound musik mereka, Seremedy sukses membawa visual-kei ke dunia internasional. Akan menarik untuk mengamati perkembangan band ini ke depannya dan bagaimana mereka akan mengenalkan visual-kei lebih jauh lagi ke masyarakat internasional.

Bagi yang ingin tahu bagaimana musik yang dimainkan Seremedy, here's their first single from their debut album: 'No Escape'

Enjoy.

Rabu, 25 Juli 2012

The Dark Knight Rises; A Fitting Conclusion for an Epic Trilogy

0 0 1 699 3987 Monash University 33 9 4677 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

Tdkr-poster
Ada berapa banyak trilogi film yang sukses di dunia perfilman? Kita mungkin bisa menyebut The Lord of the Rings Trilogy atau mungkin trilogy The Godfather. Tapi dalam dunia film superhero, apakah ada trilogy film yang terbilang sukses besar? Ada dua trilogy film superhero yang membekas di ingatan saya: Spider-Man trilogy karya Raimi dan X-Men trilogy. Kedua trilogy film superhero tersebut, jujur saja, terbilang sukses di dua film awal, terutama di film kedua, Spider-Man 2 dan X2 yang fenomenal pada masa itu. Sayangnya, film ketiga yang berfungsi sebagai penutup trilogy malah hancur dengan sukses, membuat saya pribadi trauma sampai sekarang.

Berkebalikan dengan dua trilogy film superhero yang disebutkan di atas, The Dark Knight rises sebagai film penutup trilogy Batman karya Christopher Nolan adalah sebuah contoh 'How a trilogy should end.'

Tdkr-batman
Sebagai penggemar Batman dari kecil, saya masih ingat bagaimana film Batman Begins (2005) merubah image Batman yang saya kenal. Kemudian dilanjutkan dengan The Dark Knight (2008), sebuah sekuel maha sempurna dan mengguncang dunia perfilman saat itu. To be honest, saya sendiri tidak berekspektasi bahwa The Dark Knight Rises akan melampaui pencapain The Dark Knight yang hampir mencapai kesempurnaan itu.

The Dark Knight Rises sendiri diceritakan mengambil tempat 8 tahun setelah The Dark Knight, di mana seperti kita tahu, Harvey Dent (Two Face) tewas dan Batman diburu karena dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab. Bruce Wayne (Christian Bale) pun menarik diri dari dunia luar, merasa bersalah atas berbagai event yang terjadi di The Dark Knight, dan berhenti beraksi sebagai sang caped crusader. Tapi ketika ancaman yang baru muncul ke Gotham, Bruce Wayne harus keluar kembali sebagai Batman untuk menyelamatkan Gotham City dari kehancuran.

Robin_john_blake
We can’t put The Dark Knight Rises on the same level as The Dark Knight. The Dark Knight adalah sebuah pencapaian tersendiri yang mendekati kesempurnaan dari Christopher Nolan. The Dark Knight Rises, walaupun tidak sedahsyat The Dark Knight, adalah sebuah film yang memuaskan saya sebagai penggemar Batman. The Dark Knight Rises memang tidak se-intense The Dark Knight, di mana kita sudah disuguhkan ketegangan sejak awal film. The Dark Knight Rises dibangun secara perlahan, bahkan bisa terasa membosankan kalau anda tidak sabar. Dengan banyaknya karakter baru yang dikenalkan di film ini, Nolan berusaha menjelaskan hubungan antar karakter dengan lebih jelas sehingga penonton tidak kebingungan. Munculnya tokoh-tokoh baru seperti John Blake (Joseph Gordon Levitt), Selina Kyle (Anne Hathaway), dan Miranda Tate (Marion Cotillard) memberi kompleksitas dan berbagai macam unexpected twist tersendiri di film ini. Selain itu, The Dark Knight Rises juga menyuguhkan lebih banyak drama dan memainkan emosi, terutama dalam hubungan Bruce Wayne dan Alfred Pennyworth (Michael Caine)

Tdkr-catwoman
Di departemen tokoh antagonis, ada Bane (Tom Hardy) yang berusaha menghancurkan Gotham hingga menjadi abu. Berbeda dengan tokoh Joker yang plot dan motif tindakannya berada di titik abu-abu (at least for me), Bane benar-benar ingin menghancurkan Gotham dan juga Bruce Wayne. Tokoh Bane pun disesuaikan dengan imajinasi Nolan, cukup berbeda dari Bane versi komik namun masih ‘stay true’ dengan karakteristik utama Bane itu sendiri.

Bane-batman
Film The Dark Knight Rises ini sendiri mengambil banyak referensi, baik dari dua film sebelumnya, komik Batman, dan juga sebuah novel klasik yaitu ‘A Tale of Two Cities’ karya Charles Dickens yang menjadi sumber inspirasi Nolan dalam menulis script film ini. Bahkan bagi beberapa orang, The Dark Knight Rises juga kental nuansa politiknya. Bahkan film ini mengingatkan saya kepada ‘the occupy movement’ yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

Overall, walaupun The Dark Knight Rises bukanlah film yang sempurna secara keseluruhan (yes, even Christopher Nolan made mistakes, deal with it), ini adalah film yang sempurna untuk mengakhiri sebuah trilogy. Saya sangat menyukai setiap momen yang ada di dalam film ini. Seperti apa yang dikatakan teman saya, The Dark Knight Rises mengembalikan kecintaan fans komik Batman terhadap filmnya. The Dark Knight Rises memang tidak segelap dan thrilling seperti The Dark Knight, tapi bisa jadi itulah poin plus dari film ini. Seorang pahlawan yang ‘spiritually and mentally broken’, kembali, dan kemudian dipatahkan lagi (literally), dan kembali lagi dan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kotanya; sangat khas superhero bukan?

Thank you Christopher Nolan, for an amazing trilogy. Kemegahan dan kedahsyatan karyamu dalam trilogy Batman ini tak akan terlupakan. Sebagai penggemar Batman dan film, saya sangat berterima kasih.

 

 

 

Senin, 09 Juli 2012

The Amazing Spider-Man [review]

Spidey
What's the first thing that comes to your mind when you hear the word 'reboot'? A different take on a story that had existed before? Or just a simple remake with new casts and stuffs like that?

Menurut wikipedia, reboot (in terms of fiction series) adalah: "to discard much or even all previous continuity in a series and start anew with fresh ideas." Dalam deskripsi ini, seorang penulis bisa menganggap cerita yang sebelumnya sudah ada sebagai irelevan dan menciptakan sebuah dunia baru yang lepas dari cerita sebelumnya.

Film The Amazing Spider-Man yang dirilis tahun 2012 ini merupakan reboot dari trilogi film Spider-Man karya Sam Raimi yang sudah pernah dirilis beberapa tahun lalu. Ketika mendengar berita tentang reboot film Spider-Man ini tahun lalu, saya merasa ide ini cukup blasphemous walaupun juga excited di saat yang sama (it's Spider-Man dude!). Reboot film superhero Marvel sudah pernah dilakukan sebelumnya, yaitu di film Hulk (2003) yang dilanjutkan di film The Incredible Hulk (2008). Reboot Hulk terbilang cukup sukses (at least for me) dan membuat ekspektasi bahwa reboot Spider-Man ini pun akan melebihi sukses film karya Raimi sebelumnya (atau paling tidak menyamainya).

Dalam usahanya untuk menyegarkan cerita Spider-Man, Marc Webb (500 Days of Summer) didapuk untuk menyutradarai film ini. Ditambah lagi dengan cast baru semacam Andrew Garfield (Peter Parker) dan Emma Stone (Gwen Stacy) yang lebih akrab di mata penonton film masa kini, diyakini film ini akan mampu menarik audience lebih banyak (and it does!)

Images

Cerita film ini masih menceritakan tentang awal mula Peter Parker menjadi Spider-Man. Mungkin banyak orang bertanya: "Di mana Mary Jane?" Pasangan iconic dari sang webhead memang tidak muncul di film ini, digantikan oleh Gwen Stacy yang memang cukup terkenal di kalangan fans Spider-Man. Keputusan untuk memasukkan Gwen sebagai love interest dari Peter di film ini adalah sebuah keputusan yang bagus, selain untuk mengenalkan karakter Gwen lebih dalam (she only appeared briefly on Spider-Man 3), sekaligus untuk memberi penyegaran di dalam cerita Spider-Man ini.

Curt Connors aka The Lizard (Rhys Ifans) menjadi villain utama di film ini. Karakter ini mungkin tidak terlalu dikenal di luar pembaca komik Spider-Man, sebuah pilihan yang obscure memang, walaupun untuk konteks cerita film ini kehadiran Curt Connors sangatlah vital.

Overall, this movie is quite enjoyable, walaupun ekspektasi berharap akan lebih Amazing daripada apa yang tersaji di layar lebar selama lebih dari 2 jam ini. Pace film ini memang dibangun secara perlahan, bahkan Peter belum menjadi Spider-Man di setengah jam permulaan film ini. Pace yang lebih lambat justru membangun penokohan karakter, terutama Peter Parker, menjadi lebih kuat.

Yang saya suka dari film ini adalah penokohan Peter Parker yang lebih kuat dibanding film Spider-Man karya Raimi sebelumnya. Di sini Peter benar-benar menunjukkan sisi kejeniusannya dan ketika menjadi Spider-Man personality uniknya yang hobi berbicara pun juga muncul. Berbeda dengan Spider-Man sebelumnya yang cenderung tidak banyak bicara.

Romantic fling antara Peter dan Gwen pun juga oke, mengingat sutradara film ini sebelumnya adalah sutradara film rom-com. Chemistry antara Garfield dan Stone sebagai pasangan di film ini sangat sempurna. Peter sebagai lelaki canggung yang sedang beranjak dewasa dan belajar akan tanggung jawab seakan melengkapi Gwen yang digambarkan sebagai perempuan yang lebih dewasa, tegas, dan berani. Lupakan saja Kirsten Dunst sebagai Mary Jane.

Hal yang membuat saya tidak menyukai film ini adalah Lizard, sang villain. Mungkin karena image Lizard terlanjur menempel, Lizard dalam film ini sangatlah jelek, mengingatkan akan The Abomination di film The Incredible Hulk atau Shin Kamen Rider (yang memang buruk rupa).

Dari segi musik, scoring dan lainnya, cukup oke. Walaupun ada satu momen di mana lagu Coldplay yang saya lupa judulnya merusak momen di salah satu adegan.

If you don't know what movie to watch, watch this one. Sebanding dengan film Spider-Man pertama karya Raimi, walaupun tidak sekeren film Spider-Man 2. Dan seperti film Spider-Man sebelumnya, The Amazing Spider-Man ini akan dibuat menjadi trilogi. Excited? You bet.

Jumat, 06 Juli 2012

ViViD - Infinity [review]

0 0 1 400 2282 Monash University 19 5 2677 14.0 Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE

[[posterous-content:pid___0]]ViViD adalah band yang relatif muda di scene music Jrock dan visual kei di Jepang. Band ini baru terbentuk pada tahun 2009 dan langsung dikontrak oleh salah satu label visual kei terkenal di Jepang sana, PS Company. ViViD sendiri terdiri atas Shin (voc), Reno (guitar), Ryoga (guitar), IV (bass), dan Ko-Ki (drums)

Ketika debut single mereka, Take-Off, dirilis, mereka langsung memberi impresi yang positif bagi saya pribadi. Benar-benar mewakili sebuah bentuk visual rock modern dan cukup memberi nafas baru bagi musik visual kei yang terkesan stagnan pada masa itu.

Dan setelah 3 tahun, akhirnya mereka mampu merilis album debut mereka ini, Infinity, yang sekaligus menjadi album major mereka. Perubahan status mereka menjadi band major memang cukup cepat, apalagi mengingat mereka baru debut 3 tahun lalu.

Okay, kembali ke album ini. Album ini adalah sebuah usaha yang patut diapresiasi dari anak-anak ViViD ini. Dibuka dengan ‘live your life’ yang langsung menghentak dengan solo gitar yang manis dan bass line yang menyenangkan untuk didengar, energetic, dan cocok untuk mengawali album ini.

‘Real’ adalah single utama album ini yang juga menjadi ost dari anime Gundam Age. Riff gitar yang catch dengan sound synthesizer yang mengingatkan saya akan band oshare-kei yang sudah bubar, Canzel. Sebuah track yang memang pantas untuk jadi single utama.

Sayangnya setengah awal album ini terasa cukup membosankan, terasa repetitif dan tidak menawarkan sesuatu yang berbeda.

 

Setelah sebuah instrumental track yang cukup epic, ‘explosion’, barulah mereka bermain lebih liar. Contohnya track ‘RIDE on time’ di mana sang bassis, IV bermain dengan maksimal sejak intro dengan bass line yang berat namun juga groovy.

Dan untuk menutup album ini mereka memilih ‘EVER’ sebuah track down tempo yang sepertinya memang didesain untuk menutup album ini.

Secara keseluruhan, album ini sebuah usaha yang patut untuk diapresiasi mengingat ini adalah album debut mereka setelah malang melintang di dunia music Jepang. Sayang album ini cukup membosankan di awal-awal, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, musiknya terkesan sangat repetitif. Bagaikan mesin mobil yang perlu dipanaskan, setengah album ini merupakan proses memanasi mesin. Sayangnya walaupun sudah dipanasi cukup lama, mereka kehabisan tenaga dengan cepat karena track yang memacu adrenalin hanya ada empat buah sebelum ditutup oleh ‘EVER’ sebagai track penutup.

Secara performance, IV sebagai bassis sangat menonjol di album ini. Reno sebagai lead guitarist cenderung berusaha mencuri pertunjukan karena ia hampr selalu pamer kebolehannya bermain solo gitar yang epic tapi gagal karena selalu terhenti di tengah-tengah.

Overall, album ini bisa diberi rating 3/5. Sebenarnya kalau mengingat debut mereka yang sangat memuaskan, seharusnya mereka bisa lebih baik lagi. Tapi mengingat status mereka kini adalah band major label, tak heran kalau ada intervensi pihak label yang mungkin membentuk musik mereka menjadi seperti apa yang ada di album ini.

Minggu, 24 Juni 2012

John Mayer - Born and Raised [review]

John-mayer-born-and-raised
John Mayer terkenal dengan lagu-lagunya yang cukup flirty (e.g. 'Your Body is a Wonderland') atau seperti di album sebelumnya, lagu-lagu tentang patah hati akut yang seakan tidak akan pernah sembuh. Dengan sentuhan blues/pop yang selalu setia di album-albumnya, John dengan setia menyentuh hati para wanita dan kaum yang tersakiti hatinya.

Album 'Battle Studies' karya John Mayer sebelumnya memang adalah sebuah karya curahan hati pribadi milik John yang handal. Akan tetapi, John sepertinya sudah sukses melupakan masa lalunya yang pedih itu, sembari mengambil arah yang baru dalam bermusik di album kelima ini, 'Born and Raised'.

Di 'Born and Raised', John melebarkan sayapnya dengan mengambil unsur musik Americana; dari folk hingga country. Mungkin dari track pertama kalian akan heran dan bertanya-tanya "Is this really John Mayer?", ya ini adalah John Mayer yang kalian kenal. Walaupun memasukkan unsur Americana yang terasa seperti Bob Dylan atau Neil Young, John tetap tak lupa memasukkan akar bluesnya ke dalam album ini.

'Shadow Days' adalah single pertama dari album ini. Dari lagu ini, John sudah bercerita kalau dia sudah meninggalkan masa lalunya yang kelam yang tergambar dari lirik "..got a tough time, had a rough start. But my shadow days are over.." Di lagu ini pula terasa perpaduan blues khas John dengan unsur musik Americana yang terdengar merdu.

"Now the cover of a Rolling Stone, ain't the cover of a Rolling Stone." di lagu 'Speak for Me' terasa menggambarkan bahwa dia sudah berubah, bukan seorang rockstar yang pernah menjadi cover majalah Rolling Stone lagi. Dan track ini pun adalah sebuah ballad folk yang manis, dalam kepala saya terbayang seorang cowboy kesepian yang memainkan gitar di lagu ini sambil memandangi alam yang sepi di wild west sana.

Track-track lain seperti 'Born and Raised', 'Love is a Verb' juga layak untuk disimak.

Secara keseluruhan, album ini adalah sebuah fine effort dari John Mayer dalam meredefinisi musiknya dan memberi sentuhan-sentuhan baru. John masih setia memanjakan pendengar lamanya dengan sentuhan blues, namun seperti musisi pada umumnya, tidak heran kalau ia mencoba bereksplorasi dengan memainkan genre yang baru di albumnya. Saya setuju dengan Rolling Stone yang memberi album ini solid 4 stars out of 5. Sebuah album yang menyenangkan dan juga berani.

Senin, 18 Juni 2012

Prometheus dan Berbagai Pertanyaan Di Baliknya

220px-prometheusposterfixed

Beberapa waktu lalu saya baru saja selesai menonton film Prometheus, yang heboh di dunia maya dengan viral campaignnya dan hebohnya testimoni audiens yang baru saja menontonnya.

Sebagai orang yang cukup selektif dalam memilih film yang akan ditonton, saya membaca beberapa review yang beredar di internet, baik dari kritikus maupun orang biasa. Reaksi mereka bermacam-macam, dari yang memuji film ini sampai yang bereaksi dengan kalimat "What the fuck?"

Walaupun awalnya agak ragu untuk menonton film ini, tapi karena penasaran dengan apa yang membuat film ini jadi sangat "What the fuck?" dan membuat orang-orang heboh, berangkatlah saya menonton film ini bersama Ines dan mas Bambang .

Oke, setelah menonton film ini selama kurang lebih dua jam, saya merasa telah di-'mindfuck' dan mengeluarkan kalimat "What the fuck?" berkali-kali.

120607_movies_prometheus
Saya tidak ingin membuat ini menjadi review film karena untuk film ini saya sama sekali tidak ada niatan untuk mereview. Terutama setelah cerita yang sangat mindfuck itu semakin tidak ada pikiran untuk membuat reviewnya sama sekali karena otak benar-benar berpikir banyak selama menonton film ini.

Jadi inti cerita dari film ini (tenang, bukan spoiler bagi yang belum menontonnya) adalah pertanyaan besar tentang penciptaan kita sebagai manusia dan seberapa jauh kita akan melangkah untuk memenuhi rasa keingintahuan kita sebagai manusia.

Saya pribadi, sebagai orang yang skeptis kepada agama dan antara percaya dan tidak dengan eksistensi Tuhan, semakin mempertanyakan apa yang saya percayai dan membandingkan dengan apa yang dipercaya orang lain. Was it God the one who created us? Or did other beings created us, humans? Ini baru satu dari sejumlah pertanyaan lainnya.

Prometheus
Beberapa jam setelah menonton ini, kepala saya masih memikirkan esensi film ini. Jujur saja, dari segi plot film ini sangatlah pointless. Tapi saya rasa, bukan itu yang hendak disampaikan Ridley Scott sampaikan lewat film ini. Mungkin belia hendak menguji seberapa jauh iman kita lewat film ini (or so what I think). Bahkan mungkin ingin menguji intelegensia para audiens, yang bahkan sampai memunculkan Prometheus Discussion Group di timeline twitter saya.

Dengan banyaknya beban yang mengganjal setelah menonton film ini, saya merasa perlu menonton film ini untuk kedua kalinya for the sake of getting more mindfuck and finding the answers.

Jadi, apakah anda yang sudah menonton merasa tertantang, baik intelegensia maupun keimanannya? Bagi yang belum, apakah anda siap menontonnya?

Minggu, 27 Mei 2012

The Temper Trap - The Temper Trap [review]

The-temper-trap-new-album-summer-2012

Bagi band/artist baru, album kedua adalah suatu ujian berat yang harus mereka lewati. Terlebih bila album pertama mencapai kesuksesan yang melebihi ekspektasi. Jatuhlah ekspektasi bahwa album kedua wajib hukumnya untuk lebih dahsyat dari album pertama, atau minimal menyamai pencapaian album pertama

Kurang lebih inilah ekspektasi pribadi dan mungkin pendengar The Temper Trap lainnya. Setelah album 'Conditions' yang sukses secara komersial dan pujian, tentu semua orang berharap bahwa album kedua mereka yang self-titled ini akan lebih megah dan lebih dahsyat lagi.

Tentu semua orang tidak bisa menyangkal kesuksesan dan megahnya sebuah single berjudul 'Sweet Disposition' dari album sebelumnya. Apakah dengan begitu album kedua ini akan penuh lagu bernuansa seperti 'Sweet Disposition' lagi? Well, harapan anda keliru dan kalau anda berharap banyak kepada album ini, bersiaplah untuk cukup dibuat kecewa.

"Well, they’ve talked a lot about their love of pasting ’80s-style synths over everything in the build-up to ‘The Temper Trap’" begitulah kutipan dari NME dan memang begitulah musik yang tertuang di album ini. Segala macam synth khas 80an yang terkadang terasa 'new wave-esque' tersebar di lagu-lagu di album ini.

Single pertama 'Need Your Love' memang terasa megah dengan sound synth yang berpadu dengan sound gitar minimalis dari Lorenzo Silitto, sementara vokal falsetto Dougy Mandagi menggema dengan kencangnya.

Setelah 'Need Your Love' (yang bisa dibilang satu-satunya lagu terbaik di album ini), tempo album pun menurun hingga titik jenuh pun bisa dicapai sebelum album ini sepenuhnya selesai.

'Trembling Hands' mungkin memiliki intro yang megah, tapi sayang lagu ini berakhir anti-klimaks.

Selebihnya, lagu-lagu lain terlalu mengandalkan synth yang sebenarnya tidak terlalu esensial dan terlalu berlebihan pemakaiannya, seperti di lagu 'Never Again', 'I'm Gonna Wait' atau 'Miracle'.

Lagu 'Rabbit Hole' sebenarnya cukup memuaskan dengan kembali mengandalkan permainan distorsi gitar di dalamnya, tapi sayangnya tidak cukup untuk menyelamatkan album ini.

Overall, album ini jatuh dalam kategori biasa saja, cenderung membosankan malah. Untuk penilaian, sesuai apa kata NME, cukup dengan nilai 5/10. Atau, in my personal opinion, cukup dengan nilai 2/5. Sangat disayangkan memang, di saat band lain justru meneguhkan identitas mereka di album kedua, The Temper Trap justru bagai kehilangan visi dan identitasnya. At least mereka cukup bertanggung jawab dengan tidak menjadi band one-hit wonder dan menghilang setelah album pertama.